Liana Arum Purwitasari

tanpa tanda jasa
SELAMAT DATANG DI BLOG LIANA ARUM PURWITASARI

Minggu, 06 Mei 2012

Bab III PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT


A.   Siklus Belajar Individu di Masyarakat

Secara  singkat  pendidikan  merupakan  produk  dari  masya-
rakat,  karena  apabila  kita  sadari  arti  pendidikan  sebagai  proses
transmisi   pengetahuan,   sikap,   kepercayaan,   keterampilan   dan
aspek-aspek  kelakuan  lainnya  kepada  generasi  muda  maka  selu-
ruh  upaya  tersebut  sudah  dilakukan  sepenuhnya  oleh  kekuatan-
kekuatan  masyarakat.  Hampir  segala  sesuatu  yang  kita  pelajari
merupakan hasil hubungan kita dengan orang lain baik di rumah,
sekolah, tempat permainan, pekerjaan dan sebagainya. Wajar pula
apabila  segala  sesuatu  yang  kita  ketahui  adalah  hasil  hubungan
timbal balik yang ternyata sudah  sedemikian  rupa dibentuk oleh
masyarakat kita.
Bagi  masyarakat  sendiri  hakikat  pendidikan  sangat  berman-
faat  bagi  kelangsungan  dan  proses  kemajuan  hidupnya.  Agar
masyarakat  itu  dapat  melanjutkan  eksistensinya,  maka  kepada
anggota mudanya harus diteruskan nilai-nilai, pengetahuan, kete-
rampilan dan bentuk tata perilaku lainnya yang diharapkan akan
dimiliki  oleh  setiap  anggota.  Setiap  masyarakat  berupaya  mene-
ruskan  kebudayaannya  dengan  proses  adaptasi  tertentu  sesuai
corak masing-masing periode jaman kepada generasi muda mela-
lui  pendidikan,  secara  khusus  melalui  interaksi  sosial.  Dengan
demikian pendidikan dapat diartikan sebagai proses sosialisasi.
Dalam pengertian tersebut, pendidikan sudah dimulai semen-
jak seorang individu pertama kali berinteraksi dengan lingkungan
eksternal di luar dirinya, yakni keluarga. Seorang bayi yang baru
lahir  tentunya  hidup  dalam  keadaan  yang  tidak  berdaya  sama
sekali.  Menyadari  hal  demikian  sang  ibu  berupaya  memberikan
segala   bentuk   curahan   kasih   sayang   dan   buaian   cinta   kasih
melalui  air  susunya,  perawatan  yang  lembut  serta  gendongan
yang   begitu   mesra   kepada   si   bayi.   Begitulah   proses   tersebut
berlangsung selama si bayi masih tetap memerlukan pertolongan
intensif dari manusia lain. Sampai pada umur lima tahun bayi itu
tumbuh  dan  berkembang  dengan  sehat  di  dalam  mahligai  cinta
perpaduan  sepasang  manusia  yang  menjadi  orang  tuanya.
Dari  sini  bisa kita sadari  selain anggota keluarga baru itu belajar
mengetahui,    mempelajari    serta    melakukan    berbagai    reaksi
terhadap stimulus dari dunia barunya maka bisa kita cermati pula
bahwa  sang  bayi  juga  memahami  esensi  nilai-nilai  kemanusiaan
dari  keluarganya    dalam  bentuk  gerak  tubuh,  belajar  berbicara,
tertawa serta semua tindak tanduk yang menggambarkan bahwa
jiwa raganya telah terpaut erat oleh belaian kasih sayang manusia
dewasa.
Ilustrasi  di  atas  hanyalah  sekelumit  kecil  dari  siklus  belajar
individu  di  dalam  masyarakat.  Proses  tersebut  berlangsung  pula
ketika   kita   menjadi   manusia  dewasa.  Apabila   kita  memenuhi
kewajiban  sebagai  saudara  laki-laki,  suami  atau  warga  negara
serta  menjalankan  hal-hal  lain  yang  tertanam  kuat  dalam  benak
kesadaran kita, itu berarti kita melakukan tugas yang sudah diten-
tukan  secara  eksternal  oleh  hukum-hukum  kodrat  sosial  (droit)
dan  kebiasaan-kebiasaan  yang  berkembang  begitu  alamiah  dari
lingkungan sosial. Kewajiban itu muncul  bukan hasil  dari proses
pemaksaan  eksternal  yang  mekanistis  melainkan  selalu  diikuti
oleh   gejala   resiprositas   individu   dengan   lingkungan   luarnya
sehingga  pada  tahap  akhirnya  masyarakat  telah  menghasilkan
ribuan   atau   bahkan   jutaan   manusia   yang   tunduk   lahir   batin
dengan   ketentuan-ketentuan   kolektif   (Abdullah   dan   Van   der
Leeden, 1986).
Selain  itu,  dimensi  sejarah  juga  berbicara  serupa.  Ratusan
tahun  silam  pendidikan  berjalan  beriringan  dengan  struktur  dan
kebutuhan  sosial  masyarakat  setempat.  Bagi  masyarakat  seder-
hana yang belum mengenal tulisan  maka para pemuda memper-
oleh tranformasi pengetahuan lewat media komunikasi lisan yang
berbentuk dongeng, cerita-cerita dari orang tua mereka. Selain itu,
pada   siang   hari   pemuda-pemuda   ini   harus   selalu   sigap   dan
tanggap  mempelajari,  mencermati  dan  belajar  mengaplikasikan
teknik-teknik mencari nafkah yang dikembangkan oleh para orang
tua  baik  itu  menangkap  ikan,  memanah,  beternak,  berburu  dan
sebagainya  (Purbakawatja  dkk.,  1955).    Dalam  cerita-cerita  lisan
itu  tersirat  pula  adat  dan  agama,  cara  bekerja  dan  cara  ber-
sosialisasi yang berkembang di masyarakatnya. Tidak mengheran-
kan  apabila  cerita  yang  sudah  turun  temurun  diwariskan  itu
dianggap sebagai sesuatu yang bernilai suci. Sejarah, adat istiadat,
norma-norma  bahkan  cara  menangkap  ikan  atau  berburu  tidak
hanya  dipandang  sebagai  hasil  pekerjaan  manusia  semata,  tetapi
memiliki  makna  sakral  yang  patut  disyukuri  dengan  beberapa
persembahan serta upacara-upacara ritual.
Begitulah perjalanan pendidikan anak manusia telah berlang-
sung organis sesuai dengan iklim sosialnya. Sedangkan keperluan
khusus  untuk  mendirikan  sebuah  lingkungan  perguruan  yang
mapan  dimulai  ketika  bangsawan-bangsawan  feodal  membutuh-
kan prajurit-prajurit serta punggawa kerajaan yang tangguh demi
mempertahankan  harta  kekayaan  milik  sang  raja.  Mereka  secara
khusus   dididik   dalam   lingkungan   tersendiri   agar   memiliki
kecakapan dan keahlian tertentu sesuai dengan kebutuhan sistem
sosial  masyarakat  aristokrasi-feodal.  Mereka-mereka  ini  menjadi
ujung  tombak  pelaksana  kekuasaan  kerajaan  di  hadapan  ribuan
rakyat   jelata   yang   memang   dibikin   bodoh.   Melihat   situasi
demikian,  wajar  apabila  jaman  ini  predikat  golongan  terdidik
hanya bisa dimiliki oleh sanak saudara sang raja serta kaum-kaum
agamawan yang telah memperkuat hegemoni kekuasaannya.
Namun  seiring  dengan  bertambahnya  umur  bumi  ini  maka
kisah  pergulatan  karakter  masyarakat  tersebut  mulai  bergeser
selaras dengan  kecenderungan  spirit jaman  yang sudah  berubah.
Bagaimanapun juga penderitaan rakyat yang menjadi bahan bakar
perputaran gerigi kehidupan feodal telah mencapai titik klimaks-
nya. Kekuasaan para raja yang bersenyawa dengan kekuatan gere-
ja  secara  perlahan-lahan  mulai  runtuh.  Dimulai  dengan  penen-
tangan  sejumlah  ilmuwan  yang  mampu  membuktikan  kesalahan
dogma-dogma  teologis  tentang  hukum  alam.  Berbagai  peristiwa
lain   juga   memiliki   andil   besar   dalam   menentukan   lahirnya
semangat  jaman  yang  semakin  konsekuen  menghargai  arti  kebe-
basan, baik itu reformasi gereja oleh Martin Luther King, revolusi
sosial  di  beberapa  tempat  yang  secara  simbolis  telah  dipresen-
tasikan  oleh  gelora  heroisme  revolusi  Perancis  pada  sekitar  per-
tengahan   abad    ke-18,   serta    meningkatnya   hasil    pemikiran-
pemikiran  ilmiah  para  ilmuwan  humanis  yang  mampu  diter-
jemahkan   dengan   penciptaan   teknik-teknik   peralatan   industri.
Praktis   kecenderungan   fakta   sosial   demikian   secara   perlahan-
lahan  mampu  mengubah  inti  kebijakan  masyarakat  yang  ber-
hubungan dengan pengajaran. Selain karena meluapnya industri-
industri manufaktur, pengaruh penerapan demokrasi, ditemukan
nya beberapa wilayah baru yang bisa dieksploitasi kekayaan alam-
nya  serta  peningkatan  diferensiasi  struktural  maka  masyarakat
Eropa  Barat  harus  bisa  menyediakan  kelompok  manusia  dalam
jumlah massal yang memiliki kemampuan teknis untuk menjalan-
kan lahan-lahan pekerjaan baru yang begitu kompleks dan cukup
rumit.  Oleh  sebab  itulah  beberapa  wilayah  Eropa  Barat  mulai
menerapkan   sistem   pendidikan   modern   yang   memanfaatkan
mekanisme   organisasi   formal   dalam   mengelola   proses   pendi-
dikannya.
Itulah  cuplikan  kecil  argumentasi  sederhana  tentang  renik-
renik  karakter  fungsi  pendidikan  di  masyarakat.  Melihat  alur
perkembangannya maka berbagai jenis konfigurasi pendidikan di
atas    sesuai    dengan    konsep    yang    diutarakan    oleh    Randall
Collins,1979 ( dalam  Sanderson ,1993 : 489) tentang tiga tipe dasar
pendidikan yang hadir di seluruh dunia, yakni ,
1.    Pertama jenis pendidikan keterampilan dan praktis, yakni pen-
didikan yang dilaksanakan untuk memberikan bekal keteram-
pilan maupun kemampuan teknis tertentu agar dapat diaplika-
sikan   kepada   bentuk   mata   pencaharian   masyarakat.   Jenis
pendidikan  ini  dominan  di  dalam  masyarakat  yang  masih
sederhana  baik  itu  berburu  dan  meramu,  nelayan  atau  juga
masyarakat agraris awal.
2.    Pendidikan  kelompok status, yaitu pengajaran yang diupaya-
kan  untuk  mempertahankan  prestise,  simbol  serta  hak-hak
istimewa   (privilige)   kelompok   elit   dalam   masyarakat   yang
memiliki   pelapisan   sosial.   Pada   umumnya   pendidikan   ini
dirancang  bukan  untuk  digunakan  dalam  pengertian  teknis
dan   sering   diserahkan   kepada   pengetahuan   dan   diskusi
badan-badan pengetahuan esoterik. Pendidikan ini secara luas
telah   dijumpai   dalam   masyarakat-masyarakat   agraris   dan
industri.
3.    Tipe pendidikan birokratis yang diciptakan oleh pemerintahan
untuk melayani kepentingan kualifikasi pekerjaan yang berhu-
bungan   dengan   pemerintahan   serta   berguna   pula   sebagai
sarana  sosiolisasi  politik   dari   model  pemerintahan   kepada
masyarakat awam. Tipe pendidikan ini pada umumnya mem-
beri  penekanan  pada  ujian,  syarat  kehadiran,  peringkat  dan
derajat. 
Demikianlah  tipe-tipe  pendidikan  tersebut  telah  mewarnai
corak  kehidupan  masyarakat.  Pada  dasarnya  ketiga  jenis  pendi-
dikan  di  atas  selalu  hadir  dalam  setiap  masyarakat  hanya  saja
prosentasi  penerapan  salah  satu  karakter  pendidikan  berbanding
searah  dengan  model  masyarakat  yang  terbentuk.  Akan  tetapi
tidak  dapat  dipungkiri  pula  ternyata  gelombang  sejarah  dunia
juga   menentukan   model   konfigurasi   masyarakat   dunia   secara
global dan hal ini juga memiliki pengaruh bagi iklim pendidikan.
Pengaruh  modernisasi  di  berbagai  sektor  kehidupan  telah  mela-
hirkan karakter pendidikan yang hampir sama meskipun memiliki
ciri  khas  tertentu  di  tiap-tiap  negara  pada  akhir  abad  ke  20  an.
Sebagaimana  penuturan  Tilaar  (2003:  62)  bahwa  dalam  masya-
rakat yang sudah maju, proses pendidikan sebagian dilaksanakan
dalam lembaga pendidikan yang disebut sekolah dan pendidikan
dalam lembaga-lembaga tersebut merupakan suatu kegiatan yang
lebih  teratur  dan  terdeferensiasi.  Inilah  pendidikan  formal  yang
biasa dikenal oleh masyarakat sebagai "schooling".
Untuk   melihat   latar   belakang   dari   menyeruaknya   situasi
sosial dunia pendidikan demikian, pada kesempatan lain Randall
Collins  dalam  karya  Sanderson  (1993:  429)  juga  mengungkapkan
analisis    fungsional    untuk    menjelaskan    ekspansi    pendidikan
modern sebagai akibat dari lahirnya kebutuhan-kebutuhan kuali-
fikasi  mahir  bagi  corak  masyarakat  modern.  Pendidikan  dilihat
memiliki kontribusi positif  demi menjalankan roda perekonomian
serta putaran gerigi-gerigi mesin industri masyarakat pendukung-
nya. Prinsip-prinsip tersebut antara lain yaitu,
1.    Persyaratan    pendidikan    dari    pekerjaan-pekerjaan    dalam
masyarakat industri yang terus meningkat sebagai akibat dari
adanya perubahan teknologi yang memiliki dua aspek yaitu,
a.
Proporsi  pekerjaan  yang  memerlukan  keterampilan  yang
rendah  berkurang  sementara  proporsi  yang  memerlukan
keterampilan tinggi bertambah.
b.    Pekerjaan-pekerjaan    yang    sama    terus    meningkatkan
persyaratan keterampilannya.
2.    Pendidikan  formal  memberi  latihan  yang  diperlukan  kepada
orang-orang untuk mendapat pekerjaan yang berketerampilan
lebih tinggi.
3.    Sebagai  akibat  dari  yang  disebut  di  atas,  persyaratan  pendi-
dikan  untuk  bekerja  terus  meningkat  dan  semakin  banyak
yang  dituntut  untuk  menghabiskan  waktu  yang  lebih
lama di sekolah.
Dari  analisis  tersebut  kiranya  cukup  jelas  pemahaman  kita
apabila  masyarakat  Indonesia  semenjak  kemerdekaannya  tidak
pernah lepas dari kehidupan pendidikannya. Dengan upaya pene-
rapan sekolah secara merata bagi rakyat di seluruh penjuru tanah
air dapat kita rasakan manfaat besarnya dalam membantu meno-
pang ekskalasi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Baik  itu  wajah  materiil  hasil  pembangunan  fisik  wilayah  negara
kita  maupun  peningkatan  pola  pikir  manusia  Indonesia  yang
semakin cerdas menjadi bukti kuat prestasi pendidikan kita. Bisa
disimpulkan pula bahwa alam reformasi yang kita rasakan saat ini
merupakan  salah  satu aspek jerih  payah  kerja sekolah-sekolah  di
Indonesia  (termasuk  perguruan  tinggi)  demi  mencapai  cita-cita
rakyat Indonesia.
Dalam konteks sosial, pendidikan juga memiliki fungsi, peran
dan   kiprah   lain   yang   berkorelasi   dengan   kekuatan-kekuatan
kolektif  yang  sudah  mapan.  Tidak  hanya  puas  dalam  kondisi
demikian   pendidikan   juga   memberikan  andil  menterjemahkan
nilai-nilai  baru  yang  tumbuh  akibat  proses  pergulatan  sejarah
dalam  wujud  emansipasi  integrasi  dengan  sistem  dan  struktur
sosialnya.   Sehingga   dengan   begitu   masyarakat   tidak   pernah
kering dari dinamika perubahan dan evolusi sosialnya.

B.   Fungsi-fungsi Sekolah

Secara  mendasar  sekolah  bertugas  untuk  memberikan  bekal
pengetahuan,   keterampilan   dan   kemampuan   yang   diperlukan
seseorang   agar   ia   dapat   menapaki   perjalanan   kedewasaannya
secara  utuh  dan  tersalurkannya  bakat-bakat  potensial  yang  ia
miliki.  Namun  dalam  konteks  sosial  pada  kenyataannya  sekolah
mempunyai beberapa fungsi yakni:

1.    Sekolah  mempersiapkan  seseorang  untuk  mendapat  suatu
pekerjaan
Apabila  kita  meninjau  secara  menyeluruh  proses  perjalanan
pendidikan  sepanjang masa,  maka kita  segera melihat  kenyataan
bahwa kemajuan dalam pendidikan beriringan dengan kemajuan
ekonomi   yang   secara   bersamaan   melaju   pesat   dengan   proses
evolusi teknik berproduksi masyarakat.
Dalam  masyarakat  bercorak  agraris  yang  stabil  pendidikan
menyangkut  penyampaian  keterampilan-keterampilan,  keahlian,
adat istiadat serta nilai-nilai. Sementara itu pada sistem ekonomi
masyarakat    maju,    sistem    pendidikan    tentunya    mempunyai
kecenderungan  untuk  memberikan  pengetahuan  dalam  jumlah
yang   terus   bertambah   kepada   kelompok-kelompok   manusia
dalam  jumlah  besar,  karena  proses-proses  produksi  yang  lebih
seksama menghendaki pekerja memiliki kualifikasi keahlian yang
tinggi (Faure dkk., 1981). Oleh sebab itu penerapan sistem sekolah
bermaksud    untuk    memberikan    kompetensi-kompetensi    jenis
keahlian     dalam     lahan     pekerjaan     yang     terbentang     luas
kompleksitasnya.
Anak    yang    menamatkan    sekolah    diharapkan    sanggup
melakukan  pekerjaan  sesuai  dengan  kebutuhan  dunia  pekerjaan
atau  setidaknya  mempunyai  dasar  untuk  mencari  nafkah.  Makin
tinggi pendidikan makin besar harapannya memperoleh pekerjaan
yang layak dan memiliki prestise tinggi. Dengan ijasah yang tinggi
seseorang      dapat      memahami      dan      menguasai      pekerjaan
kepemimpinan atau tugas lain yang dipercayakan kepadanya.

2.    Sebagai alat transmisi kebudayaan
Fungsi    transmisi    kebudayaan    masyarakat    kepada    anak
menurut Vembriarto (1990) dapat dibedakan menjadi dua macam,
yaitu (1) transmisi pengetahuan & keterampilan, dan (2) transmisi
sikap,  nilai-nilai  dan  norma-norma.  Transmisi  pengetahuan  ini
mencakup   pengetahuan   tentang   bahasa,   sistem   matematika,
pengetahuan     alam     dan     sosial     serta     penemuan-penemuan
teknologi.   Dalam   masyarakat   industri   yang   kompleks,   fungsi
transmisi  pengetahuan  tersebut  sangat  penting  sehingga  proses
belajar  di  sekolah  memakan  waktu  lebih  lama,  membutuhkan
guru-guru dan lembaga yang khusus. Dalam arti sempit transmisi
pengetahuan  dan  keterampilan  itu  berbentuk  vocational  training.
Di  masyarakat  Jawa,  ayah  mengajarkan  kepada  anaknya  cara
mempergunakan  cangkul  serta  peralatan  pertanian  lain  secara
intensif   sampai   sang   anak   memahami   teknik-teknik   tertentu
membudidayakan  tanaman  pangan  yang  sudah  ratusan  tahun
dikembangkan  oleh  nenek  moyang  pendahulunya.  Sementara  di
sekolah   teknik,   anak   belajar   bagaimana   caranya   memperbaiki
mobil.  Dalam  kategori  transmisi  pengetahuan  dan  keterampilan
fungsi dari sekolah modern tidak berbeda jauh dengan penerapan
pendidikan  tradisional  yang  dilakukan  oleh  bermacam-macam
sukubangsa  semenjak  ratusan  tahun  silam.  Hanya  saja  sekolah
memiliki  perangkat  penataan  serta  organisasi  sumber  daya  yang
lebih sistematis dan terpadu dalam penyelenggaraan pendidikan-
nya.  Namun  tak  dapat  dipungkiri  output  pendidikan  juga  men-
jamin kualitas yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Anak
masyarakat Jawa belajar menjadi petani yang   baik sesuai dengan
tuntutan  masyarakatnya  sementara  di  era  modern  ini  sekolah
dapat   menghasilkan   ratusan   tenaga   terampil   sesuai   dengan
spesifikasi keahliannya.
Dari   segi   transmisi   sikap,   nilai-nilai   dan   norma-norma
masing-masing   lembaga   dalam   konteks   karakter   sosiokultural
juga tidak bisa dipungkiri peran dan fungsinya. Pemuda-pemuda
dari  masyarakat  Jawa  yang  masih  tradisional  harus  mengikuti
dengan  cermat  model-model  penggemblengan  spiritual  di  kala
mereka    akan    menginjak    dewasa    melalui    lembaga-lembaga
pendidikan  seperti  padepokan, pondok pesantren  dan  sejenisnya
yang  tumbuh  subur  dalam  perjalanan  kebudayaan  masyarakat
setempat.  Wujud  keberadaan  lembaga  tersebut  merupakan  bukti
tentang  kiprah  peranan  lembaga  pendidikan  dalam  mengupaya-
kan  terjaminnya  transformasi  nilai-nilai  dan  norma  yang  senan-
tiasa  dijunjung  tinggi.  Sementara  itu,  dalam  masyarakat  modern
di   sekolah,   anak   tidak   hanya   mempelajari   pengetahuan   dan
keterampilan,   tetapi   juga   sikap,   nilai-nilai   dan   norma-norma.
Sebagian  besar  sikap  dan  nilai-nilai  itu  dipelajari  secara informal
melalui  situasi  formal  di  kelas  dan  di  sekolah.  Melalui  contoh
pribadi  guru,  isi  cerita  buku-buku  bacaan  pelajaran  sejarah  dan
geografi serta situasi lingkungan sekolah anak mempelajari sikap,
nilai-nilai dan norma-norma masyarakat
  

3.    Sekolah mengajarkan peranan sosial
Pendidikan   diharapkan   membentuk   manusia   sosial   yang
dapat bergaul dengan sesama manusia sekalipun berbeda agama,
suku   bangsa,   pendirian   dan   sebagainya.   Ia   juga   harus   dapat
menyesuaikan diri dalam situasi sosial yang berbeda-beda.
Kalau  diselidiki,   tentu  akan   ditemukan  bermacam-macam
alasan lain mengapa orang tua menyekolahkan anaknya. Misalkan
menyekolahkan anak gadis sampai ada yang meminangnya, atau
menyerahkan  anaknya  ke  dalam  pengawasan  guru  karena  lebih
sulit mengurusinya sendiri di rumah dan sebagainya.

4.    Sekolah menyediakan tenaga pembangunan
Bagi    negara-negara    berkembang,    pendidikan    dipandang
menjadi   alat   yang   paling   ampuh   untuk   menyiapkan   tenaga
produktif  guna  menopang  proses  pembangunan.  Kekayaan  alam
hanya   mengandung   arti   bila   didukung   oleh   keahlian.   Maka
karena itu manusia merupakan sumber utama bagi negara.
Menurut analisis Faisal dan Yasik (1985) sepanjang dasawarsa
60-an,  dunia  pendidikan  memiliki  andil  besar  dalam  membantu
proyek negara untuk bangkit melakukan pembangunan di segala
bidang.  Persekolahan  di  kala  itu,  menjadi  pusat  perhatian  dan
dambaan    para    perencana    yang    mengupayakan    perubahan-
perubahan  besar,  baik  dalam  bidang  ekonomi  maupun  sosial,
menjadi pusat perhatian para politisi yang berusaha membangun
semangat     kebangsaan,     serta     menjadi     kepentingan     warga
masyarakat  yang  berharap  menemui  peningkatan  kesejahteraan
hidupnya.  Di  awal-awal  dasawarsa  60-an  ada  suatu  keyakinan
kuat dari seluruh komponen masyarakat tentang urgensi lembaga
pendidikan  bagi  proses  modernisasi  dan  industrialisasi.  Sistem
pendidikan  dipandang  sebagai  penghasil  tenaga-tenaga  terampil
dan juga pengetahuan baru yang dibutuhkan bagi perkembangan
teknologi    dan    ekonomi.    Sistem    pendidikan,    juga    dianggap
berandil  besar  dalam  menanamkan  disiplin,  sikap  dan  motivasi
sumber   daya   manusia   guna   menopang   perkembangan   indus-
trialisasi.  Dalam  hubungan  ini,  modal  manusiawi  dianggap  jauh
melebihi pentingnya modal-modal fisik apapun juga; bahkan bagi
para  ahli  ekonomi  yang  agresif  sampai  menunjukkan  perbedaan
signifikansi modal dalam wujud angka-angka presentase. Mereka-
mereka ini  memiliki  keyakinan  kuat bahwa orang-orang terdidik
begitu  produktif  dalam  melaksanakan  tugas  pekerjaan,  tanggap
terhadap tuntutan keterampilan baru, serta mampu menunjukkan
loyalitas  yang  lebih    tinggi  terhadap  dunia  pekerjaannya.  Inilah
salah satu bukti dari kiprah pendidikan di Indonesia pada waktu 
dan lapisan masyarakat memiliki hajat besar untuk
membangun negaranya.

5.    Sekolah membuka kesempatan memperbaiki nasib

Semenjak   diterapkannya   sistem   persekolahan   yang   bisa
dinikmati   secara   merata   oleh   seluruh   lapisan   masyarakat   di
seluruh penjuru tanah air maka secara otomatis telah mendobrak
tembok ketimpangan sosial masyarakat feodal dan menggantinya
dengan  bentuk  mobilitas  terbuka.  Sekolah  menjadi  tempat  yang
paling strategis untuk menyalurkan  kebutuhan mobilitas vertikal
dalam   kerangka   stratifikasi   sosial   masyarakat.   Perubahan   ini
cukup   menyeruak   karena   di   dalam   tatanan   sosialnya   telah
mengalami   pergeseran   kriteria-kriteria   pekerjaan   yang   secara
tidak  langsung  mengubah  kontruksi  susunan  masyarakat  secara
drastis. Bagi orang-orang yang ingin menapaki karier hidup yang
lebih prestisius maka mereka cukup mendaftarkan diri ke lembaga
sekolah   dan   berproses   secara   serius   sampai   pada   akhirnya
menerima  bukti  kelulusan.  Bisa  dijamin  ijasah  yang  didapat  dari
sekolah    tersebut    lebih    diperhatikan    oleh    pihak-pihak    yang
berkepentingan  dari  pada  gelar  bangsawan  yang  sudah  mulai
usang.  Melalui  pendidikan  orang  dari  golongan  rendah  dapat
meningkat ke golongan yang lebih tinggi.
Banyak   pemuda-pemuda   yang   berhasil   menapaki   jenjang
karir hidupnya melalui sekolah meskipun memiliki latar belakang
status yang tergolong rendah. Oleh karena itu orang tua berusaha
menyekolahkan anaknya dengan harapan akan dapat memperoleh
hasil   yang   memuaskan   bagi   peningkatan   derajat   dan   status
keluarga di kemudian hari.

6. Menciptakan integrasi sosial
Dalam  masyarakat  yang  bersifat  heterogen  dan  pluralistik,
terjaminnya integrasi sosial merupakan fungsi pendidikan sekolah
yang cukup penting. Masyarakat Indonesia mengenal bermacam-
macam   suku   bangsa   masing-masing   dengan   adat   istiadatnya
sendiri,   bermacam-macam   bahasa   daerah,   agama,   pandangan
politik  dan  lain  sebagainya.  Dalam  keadaan  demikian  bahaya
disintegrasi   sosial   sangat   besar.   Sebab   itu   tugas   pendidikan
sekolah  yang terpenting adalah  menjamin  integrasi  sosial. Untuk
menjamin integrasi sosial itu, caranya ialah sebagai berikut.

a.   Sekolah mengajarkan bahasa nasional.
Bahasa  nasional  ini  memungkinkan  komunikasi  antara  suku-
suku  dan  golongan  yang  berbeda-beda  dalam  masyarakat.
Pengajaran  bahasa  nasional  ini  merupakan  cara  yang  paling
efektif untuk menjamin integrasi sosial.
b.   Sekolah   mengajarkan   pengalaman-pengalaman   yang   sama
kepada anak melalui keseragaman kurikulum dan buku-buku
pelajaran  dan  buku  bacaan  di  sekolah.  Dengan  pengalaman
yang  sama  itu  akan  berkembang  sikap  dan    nilai-nilai  yang
sama dalam diri anak.
c.
Sekolah mengajarkan kepada anak corak kepribadian nasional
(national   identity)   melalui   pelajaran   sejarah   dan   geografi
nasional,   upacara-upacara   bendera,   peringatan   hari   besar
nasional,   lagu-lagu   nasional   dan   sebagainya.   Pengenalan
kepribadian  nasional  itu  akan  menimbulkan  perasaan  nasio-
nalisme  dan  perasaan  nasionalisme  itu  akan  membangkitkan
patriotisme.
7.    Kontrol Sosial Pendidikan
Di dalam percakapan sehari-hari, sistem pengendalian sosial
atau  social  control  seringkali  diartikan  sebagai  pengawasan  oleh
masyarakat terhadap jalannya pemerintahan khususnya pemerin-
tah  beserta  aparaturnya.  Asumsi  tersebut  memang  ada  benarnya
namun  dalam  pengertian  yang  mendasar    pengendalian  sosial
tidak hanya berhenti pada pengertian itu saja. Arti sesungguhnya
pengendalian   sosial   jauh   lebih   luas,   karena   pada   pengertian
tersebut tercakup segala  proses, baik yang direncanakan maupun
tidak,  yang  bersifat  mendidik,  mengajak  atau  bahkan  memaksa
warga-warga masyarakat agar mematuhi kaidah-kaidah dan nilai
sosial yang berlaku. Jadi pengendalian sosial dapat dilakukan oleh
individu  terhadap  individu  lainnya  (misalnya  seorang  ibu  men-
didik  anak-anaknya  agar  menyesuaikan  diri  pada  kaidah-kaidah
dan  nilai-nilai  yang  berlaku)  atau  mungkin  dilakukan  oleh  indi-
vidu terhadap suatu kelompok sosial (umpamanya, seorang dosen
di Perguruan Tinggi memimpin beberapa orang mahasiswa dalam
kegiatan  kuliah  kerja  lapangan).  Seterusnya  pengendalian  sosial
dapat dilakukan oleh kelompok terhadap kelompok lainnya, atau
oleh  suatu  kelompok  terhadap  individu.  Itu  semua  merupakan
proses  pengendalian  sosial  yang  dapat  terjadi  dalam  kehidupan
sehari-hari,    meskipun    seringkali    manusia    tidak    menyadari.
Dengan demikian secara mendasar pengendalian sosial bertujuan
untuk  mencapai  keserasian  antara  stabilitas  dengan  perubahan-
perubahan  dalam  masyarakat  atau  suatu  sistem  pengendalian
bertujuan   untuk   mencapai   keadaan   damai   melalui   keserasian
antara kepastian dengan keadilan.
Menurut   Soekanto   (1990)   sifat   pengendalian   sosial   bisa
bersifat preventif atau represif. Preventif merupakan suatu usaha
pencegahan    terhadap    munculnya    gangguan-gangguan    pada
keserasian    antara    kepastian    dengan    keadilan.    Usaha-usaha
preventif dijalankan melalui proses sosialisasi, pendidikan formal
dan   informal.   Dari   penegasan   tersebut   bisa   dikatakan   bahwa
aktivitas  pendidikan  baik  itu  di  sekolah  maupun  di  luar  sekolah
merupakan   salah   satu   alat   pengendalian   sosial   yang   telah
melembaga  baik  itu  pada  masyarakat  tradisional  maupun  yang
sudah  modern.  Sehingga  dalam  hal  ini  pengertian  pendidikan
merupakan proses pengendalian secara sadar di mana perubahan-
perubahan  tingkah  laku  dihasilkan  dari  di  dalam  diri  orang  itu
melalui   pergulatan   sosialnya.   Dari   pandangan   ini   pendidikan
adalah suatu proses yang dimulai pada waktu lahir dan berlang-
sung  sepanjang  hidup.  Pengertian  pengendalian  secara  sadar  ini
berarti adanya tingkat-tingkat kesadaran dari tujuan yang hendak
di dapat.
Sementara itu, sebagaimana uraian penjelasan pada halaman-
halaman terdahulu bahwa di era modern ini lembaga pendidikan
juga  mengalami  proses  transformasi  baik  itu  pola  kegiatan,  tata
nilai,   bentuk   dan   organisasi   perannya   di   masyarakat.   Secara
spesifik telah memunculkan lembaga sekolah sebagai manifestasi
wujud orientasinya. Sehingga pada segi sosialnya sekolah meme-
gang  peranan  penting  dalam  sosialisasi  anak-anak.  Sebagai  salah
satu   upaya   pengendalian   sosial   ada   empat   cara   yang   dapat
digunakan sekolah yakni :
a.
Transmisi kebudayaan, termasuk norma-norma, nilai-nilai dan
informasi    melalui    pengajaran    secara    langsung,    misalnya
tentang  falsafah  negara,  sifat-sifat  warga  negara  yang  baik,
struktur pemerintahan, sejarah bangsa dan sebagainya.
b.    Mengadakan kumpulan-kumpulan sosial seperti perkumpulan
sekolah, Pramuka,  kelompok  olah  raga,  dan  sebagainya  yang
dapat   memberikan   kesempatan   kepada   anak-anak   untuk
mempelajari    dan    mempraktikkan    berbagai    keterampilan
sosial.
c.
Memperkenalkan    anak    dengan    tokoh-tokoh    yang    dapat
dijadikan anak sebagai figur tauladannya. Dalam hal ini guru-
guru dan pemimpin sekolah memegang peranan yang penting.
d.    Menggunakan  tindakan  positif  dan  negatif  untuk  mengha-
ruskan   murid   mengikuti   tata   perilaku   yang   layak   dalam
bimbingan sosial. Yang termasuk dalam tindakan positif ialah
pujian,  hadiah  dan  sebagainya  sedangkan  cara  yang  negatif
berupa hukuman, celaan dan sebagainya.

C.   Perubahan Sosial dan Pendidikan
Telah banyak dibicarakan oleh publik bahwa masyarakat kita
saat ini tidak pernah lepas dari gejala perubahan. Namun karena
gejala tersebut memiliki intensitas yang begitu kuat maka banyak
pihak yang mengkhawatirkan  ketangguhan  "daya tangkal" nilai-
nilai masyarakat yang telah mapan menjadi goyah lalu perlahan-
lahan akan mengalami pemudaran.
Perubahan dalam masyarakat memang telah ada sejak jaman
dulu.  Namun  dewasa  ini  perubahan-perubahan  tersebut  berjalan
dengan  sangat  cepat.  Hal  ini    membingungkan  manusia  yang
menghadapinya.    Perubahan-perubahan    mana   sering    berjalan
secara konstan dan terikat dengan waktu dan tempat. Akan tetapi
karena  sifatnya  berantai,  maka  perubahan  terlihat  berlangsung
terus,   meskipun   diselingi   keadaan   di   mana   masyarakat   yang
mengalami perubahan.
Telah   menjadi   hukum   alam   bahwa   masyarakat   memiliki
perbedaan dalam adopsi setiap perubahan ataupun inovasi baru.
Ada masyarakat yang sangat cepat mengadopsi suatu perubahan,
ada  yang  lambat  bahkan  ada  yang  sangat  skeptik,  di  samping
yang terjadi pada kebanyakan anggota masyarakat umumnya. Hal
ini terjadi, karena anggota masyarakat memiliki perbedaan kesiap-
an  untuk  menerima  perubahan  itu,  sebagai  akibat  dari  adanya
variasi   pengetahuan,   cara   berpikir,   sikap,   variasi   personalitas,
pengalaman,   selain   kesesuaiannya   antara   nilai   yang   ia   miliki
dengan  nilai   baru  yang   ditawarkan.  Selain  karakteristik   yang
oleh  seseorang  atau  suatu  masyarakat,  faktor  referensi
atau  panutan  juga  berperanan  penting  dalam  adopsi  perubahan
itu.  Unsur-unsur  yang  dapat  dijadikan  referensi  oleh  seseorang
atau masyarakat terhadap proses adopsi perubahan itu di antara-
nya  adalah,  (1)  orangtua  (2)  pemuka  masyarakat  baik  formal
mupun non-formal, (3) teman dekat, (4) figur idola, dan (5) orang
yang  paling  berpengaruh  terhadap  diri  seseorang.  Unsur-unsur
no.  1,  2,  dan  3,  dapat  ditunjuk  dengan  jelas  dalam  masyarakat.
Akan   tetapi   unsur   figur   idola   dan   unsur   orang   yang   paling
berpengaruh terhadap diri seseorang sangat subjektif. Figur-fiigur
itu dapat berwujud   bintang film, tokoh masyarakat, sifat herois-
me,  atau  yang  lain,  yang  pada  dasarnya  dapat  berbentuk  karak-
teristik  atau  aktualisasi  dari  figur  itu  yang  dinilai  sesuai  dengan
nilai yang dimilikinya, karena baik pola maupun kecepatan sese-
orang  atau  suatu  masyarakat  menerima  suatu  perubahan  pada
dasarnya adalah berbeda. Perbedaan ini yang dapat menghasilkan
kesenjangan tata nilai di dalam masyarakat, lebih-lebih lagi dalam
situasi  di  mana kompleksitas perubahan  itu semakin meluas dan
perubahan itu terjadi sangat cepat.
Sementara   kalau   kita   sadari   perubahan   budaya   manusia
melekat  dengan  perubahan  alam  dan  jaman.  Pada  era  teknologi
suatu  masyarakat  akan  ketinggalan  apabila  masyarakat  itu  tidak
menerapkan   teknologi   dalam   tatanan   hidup   mereka.   Bahkan
teknologi  telah  terbukti  membawa  tingkat  efisiensi  dan  kemak-
muran  masyarakat,  karena  sifat  dari  teknologi  itu  yang  pada
dasarnya memburu perolehan nilai tambah perubahan budaya itu
pada  dasarnya  adalah  untuk  adaptasi  terhadap  perubahan  alam
dan  jaman  agar  manusia  tetap  mampu  mempertahankan  eksis-
tensi hidup mereka. Meskipun kekayaan sumber daya alam bukan
faktor  penentu  terhadap  kemajuan  suatu  masyarakat  dibanding-
kan  dengan  kekayaan  sumber  daya  manusia  tetapi  semakin  ber-
kurangnya  daya  dukung  potensi  sumber  daya  alam  dibanding
dengan  tuntutan  kebutuhan  manusia  yang  jumlahnya  semakin
besar  tetap akan  berdampak  terhadap  terjadinya  perubahan  pola
hidup  manusia.  Apabila  produk  dan  jasa  yang  menjadi  ukuran
kekuatan  suatu  masyarakat  potensial  bagi  masyarakat  tertentu,
maka mereka itu yang akan mampu menguasai pasar, yang akhir-
nya  merekalah  yang  akan  mampu  mempertahankan  eksistensi
hidup mereka. Akhirnya penguasaan teknologi yang akan meng-
hasilkan unggulan suatu bangsa. 
 
Berdasarkan tinjauan di atas, bahwa untuk mempertahankan
eksistensi hidup masyarakat tidak dapat terhindar dari penguasa-
an  teknologi,  maka  unsur  kreativitas,  unsur  kemandirian  dalam
kebersamaan,  unsur  produktivitas,  menjadi  faktor  yang  sangat
penting  untuk  menaggapi  budaya  hidup  teknologis  itu.  Berarti
pendidikan yang menghasilkan manusia-manusia kreatif menjadi
tuntutan dalam pola pendidikan umum saat ini banyaknya media
yang  dapat  berperan  sebagai  sumber  informasi  pendidikan  bagi
generasi bangsa saat ini, maka konsep pendidikan perlu mengala-
mi  pergeseran,  pendidikan  bukan  lagi  sebagai  usaha  yang  di
sengaja lagi akan tetapi menjadi kondisi apapun yang dampaknya
dapat   menyebabkan   terjadinya   perubahan   nilai-nilai   manusia.
Kondisi  dalam  kehidupan  keluarga,  kondisi  yang  terjadi  dalam
masyarakat luas sebagai panggung pentas budaya bangsa kondisi
yang ditampilkan oleh berbagai media baik cetak maupun elektro-
nika, kondisi yang terjadi di sekolah kesemuanya secara bersama-
sama  mewujudkan  terjadinya  proses  pendidikan  bagi  generasi
bangsa kita. Baik dipandang dari dimensi tuntutan kualitas manu-
sia masa kini  dan  masa datang maupun  dari  kondisi  pendidikan
yang  semakin  kompleks  dan  multidimensional  itu,  maka  pendi-
dikan kita telah saatnya lebih banyak memberi kesempatan anak-
anak  kita  mengaktualisasikan  diri  dalam kondisi  yang  terkontrol
baik  dirumah  maupun  di  sekolah  untuk  mengimbangi  kondisi
yang  tidak  terkontrol  dalam  kehidupan  di  masyarakat  luas  yang
justru  tarik  menarik  pengaruhnya  terhadap  proses  pendidikan
formal  semakin  besar.  Peran  pendidikan  orang  tua  dan  pendi-
dikan sekolah dituntut semakin besar, apabila kita ingin generasi
bangsa kita tidak mengalami pemudaran nilai-nilai budaya bangsa
kita yang akan menjalar kepada pemudaran rasa kebangsaan kita,
dengan   lebih   besar   memberikan   kesempatan   kepada   mereka
untuk mengaktualisasikan diri mereka masing-masing.

D.   Pendidikan dan Pembaharuan Masyarakat
Ada  para  pendidik  yang  menaruh  kepercayaan  yang  besar
sekali akan kekuasaan pendidikan dalam membentuk masyarakat
baru.  Oleh  karena  itu  setiap  anak  diharapkan  memasuki  sekolah
dan  dapat  diberikan  ide-ide  baru  tentang  masyarakat  yang  lebih
indah daripada yang sudah-sudah. Sekolah dapat merekonstruksi
atau mengubah dan membentuk kembali masyarakat baru. 
Apakah  harapan  itu  akan  terpenuhi?  Dapat  dipertanyakan.
Pihak  yang  berkuasa  di  suatu  negara  pada  umumnya  menggu-
nakan  sekolah  untuk  mempertahankan  dasar-dasar  masyarakat
yang ada. Perubahan yang asasi tak akan terjadi tanpa persetujuan
pihak yang berkuasa dan masyarakat.
Sekolah tak dapat melepaskan diri dari masyarakat tempat ia
berada  dan  dari  kontrol  pihak  yang  berkuasa.  Sekolah  hanya
dapat  mengikuti  perkembangan  dan  perubahan  masyarakat  dan
tak  mungkin  mempelopori  atau  mendahuluinya.  Jadi  tidak  ada
harapan  sekolah  dapat  membangun  masyarakat  baru  lepas  dari
proses perubahan sosial yang berlangsung dalam masyarakat itu.
Belajar  dari  pengalaman  berbagai  dunia,  tentu  saja  sekolah
dapat  digunakan  oleh  yang  berkuasa  untuk  mengadakan  peru-
bahan-perubahan  radikal  yang  diinginkan  oleh  pihak  yang  ber-
kuasa itu, seperti Hitler di Jerman, Partai Komunis di Uni Soviet,
Jepang  di  daerah  jajahannya  dan  sebagainya.  Sistem  pendidikan
adalah  alat  yang  ampuh  untuk  mengindoktrinasi  generasi  muda
agar  menciptakan  suatu  masyarakat  menurut  keinginan  mereka
yang  mengontrolnya.  Perubahan  kekuasaan  dalam  suatu  negara,
misalnya   oleh   golongan   yang   menganut   ideologi   lain   akan
memanfaatkan  sekolah  sebagai  alat  untuk  membangun  masya-
rakat baru menurut ideologi mereka.
Dalam dunia yang dinamis ini tanpa terkecuali setiap masya-
rakat  akan  mengalami  perubahan  menuju  pembaharuan.  Tidak
turut  berubah  dan  mengikuti  pertukaran  jaman  akan  membaha-
yakan eksistensi masyarakat itu. Tiap pemerintahan akan berusa-
ha  mengadakan  perubahan  yang  diinginkan  demi  kesejahteraan
rakyatnya dan keselamatan bangsa dan negaranya. Dalam hal itu
diusahakan adanya keseimbangan antara dinamika dengan stabi-
litas. Perubahan-perubahan itu antara lain tercermin dalam peru-
bahan   dan   pembaharuan   kurikulum   dan   sistem   pendidikan.
Peralihan  dari  jaman  ke  jaman  memerlukan  berbagai  perubahan
kurikulum sesuai dengan filsafat bangsa dan paradigma dominan
yang dianut. Jadi, dengan kata lain, perubahan menuju pembaha-
ruan dalam pendidikan sangat tergantung kebijakan yang diambil
oleh  negara.

Jumat, 04 Mei 2012

seni tari dan drama

1. Unit 2 DASAR-DASAR SENI RUPA, SENI MUSIK DAN SENI TARI Oleh Zakarias Soeteja Bandi Sobandi Nanang Supriyatna Beben Barnas

2. Untuk memudahkan pemahaman saudara Unit ini akan dibagi dalam tiga sub unit sebagai berikut : Sub Unit 1 Dasar-Dasar Seni Rupa Sub Unit 2 Dasar-Dasar Seni Musik Sub Unit 3 Dasar-dasar Seni Tari

3. Sub Unit 1 DASAR-DASAR SENI RUPA A. Pengertian Seni Rupa Seni rupa adalah cabang seni yang pencerapannya terutama melalui indera pengelihatan (mata). Cara pencerapannya inilah yang terutama mebedakan dengan jenis seni lain seperti seni musik yang pencerapannya terutama menggunakan indera pendengaran (auditori). Pada awalnya, secara sederhana terjemahan seni rupa di dalam Bahasa Inggris adalah fine art. Namun sesuai perkembangan dunia seni modern, istilah fine art menjadi lebih spesifik kepada pengertian seni rupa murni untuk yang membedakannya dengan desain dan kriya yang disebut applied art dalam bahasan visual arts (seni visual).

4. B. Bentuk dan Jenis Karya Seni Rupa Bentuk Karya seni Rupa Para ahli menggolongkan tentang jenis-jenis karya rupa. Penggolongan atas jenisnya adalah pembedaan antara karakteristik karya yang satu dengan yang lainnya. Berdasarkan dimensinya karya seni rupa terbagi dua yaitu, karya dua dimensi dan karya tiga dimensi. a. Karya dua dimensi (karya seni yang mempunyai ukuran panjang dan tebal) b. Karya tiga dimensi (mempunyai tiga ukuranpanjang, lebar dan tebal) atau memiliki ruang.

5. Berdasarkan kegunaan dan fungsinya, karya seni rupa digolongkan ke dalam : a. karya seni murni (pure art/fine art) yaitu karya seni yang diciptakan semata-mata untuk dinikmati keindahan atau keunikannya saja tanpa atau tidak memiliki fungsi praktis. b. Karya Seni pakai (useful art/applied art) adalah karya seni rupa yang prinsip pembentukannya mengikuti fungsi tertentu dalam kehidupan sehari-hari.

6. Adapun yang dimaksud dengan ”gaya” dalam karya seni rupa, adalah model penampilan dari suatu karya. Contohnya antara lain: Gaya dekoratif, yaitu penampilan karya yang lebih mengutamakan keindahan garis, bidang warna. b. Gaya naturalis, yaitu penampilan karya yang memperlihatkan ketelitian seniman dalam menggambarkan objek secara rinci, sesuai dengan bentuk aslinya (haslinya menyerupai hasil pemotretan). c. Gaya abstrak, yaitu penampilan/pengwujudan karya yang tidakmengingatkan kepada bentuk atau objek yang ada di alam. d. Gaya stilasi, yaitu penampilan objek dengan menggayakan atau membuat indah, dengan garis meliuk-liuk, melingkar-lingkar agar tampak indah (dalam hal ini, stilasi dapat dipandang bagian dari dekorasi).

7. 2. Jenis Karya Seni Rupa Seni lukis Seni lukis merupakan kegiatan pengolahan unsur-unsur seni rupa seperti garis, bidang, warna dan tekstur pada bidang dua dimensi. Adapun seni lukis yang kita kenal saat ini dibuat pada kanvas, dapat disebut seni lukis modern. Beberapa seniman seni lukis modern indonesia yang namanya sudah dikenal di mancanegara diantaranya : affandi, popo, iskandar, fajar sidik, dsb. Seni patung. Karya seni patung diwujudkan melalui pengolahan unsur-unsur seni rupa pada bidang tiga dimensi. Bahan yang digunakan dapat berupa bahan alami (kayu, batu), bahan logam (besi, perunggu) atau bahan sintesis. Tekniknya yaitu pahat, ukir, cor, dsb.

8. Seni grafis atau cetak Seni grafis adalah cabang seni rupa yang tergolong ke dalam bentuk dua dimensi. Sesuai dengan proses pencetakannya, karya seni grafis terbagi menjadi 4 jenis : Cetak tinggi Prinsip cetak ini adalah bagian yang bertinta adalah bagian yang paling tinggi. Bagian ini bila diterakan atau dicetakkan, tinta atau gambar akan berpindah ke atas permukaan kertas. Cetak dalam Prinsip cetak dalam adalah hasil cetakan yang diperoleh dari celah garis bagian dalam dari plat klisenya bukan bagian tingginya seperti stempel atau cap. Teknik cetak ini merupakan kebalikan dari teknik cetak tinggi. Acuan cetak yang digunakan adalah lempengan tembaga atau seng yang diberi kedalaman untuk tempat tinta.

9. Cetak saring Disebut juga serigrafi atau sablon. Prinsip cetak ini adalah mencetak gambar melalui saringan yang diberi batasan-batasan tertentu Cetak datar cetak datar atau planografi adalah memanfaatkan perbedaan sifat minyak dan air serta acuan cetakan yang terbuat dari batu (litografi atau seng)

10. Seni kriya a. Pengertian Seni Kriya adalah hasil kebudayaan fisik yang lahir karena adanya tantangan dari lingkungan dan dari diri kriawan. Seni kriya diartika sebagai hasil daya cipta manusia melalui keterampilan tangan untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya, serta umumnya dibuat dari bahan-bahan alam. Perkemabangan seni kriya Pperkembangan seni kriya sejalan dengan pertumbuhan seni rupa pada umumnya. Seni kriya dimulai sejak jaman batu dan logam, kemudian disambung dengan kebudayaan hindu di indonesia, munculnya kekuasaan kerajaan islam, masuknya zaman kolonialisme bangsa-bangsa eropa hingga abad modern saat ini.

11. Seni Bangunan (Arsitektur) Pada dasarnya seni bangunan merupakan bagian dari seni rupa, tetapi karena kekhususan yang dimilikinya seringkali seni bangunan dikelompokkan tersendiri dalam seni arsitektur. Berdasarkan bentuk dan fungsinya seni bangunan dapat dikategorikan sebagai seni pakai. Desain Desain merupakan kegiatan reka letak atau perancangan. Hampir semua karya seni rupa melalui proses perancangan sebelum diproduksi atau diwujudkan dalam bentuk jadi yang sesungguhnya.

12. Beberapa jenis desain yang dikenal di Indonesia antara lain: Desain Komunikasi Visual Desain ini awalnya lebih dikenal dengan istilah desain grafis, yaitu kegiatan seni rupa yang menyusun unsur-unsur grafis pada sebuah benda pakai. Karena lingkup yang dirasakan terbatas, pada perkembangan selanjutnya seni grafis menjadi bagian dari kegiatan desain komunikasi visual. Desain Interiror adalah kegiatan merancang tata letak suatu ruangan atau eksterior bangunan. Kegiatan ini dimaksudkan agar sebuah ruangan selain sesuai dengan fungsinya juga menjadi indah dan nyaman.

13. C. Unsur-Unsir Dasar Seni rupa Secara umum unsur-unsur yang mewujudkan sebuah karya seni rupa terdiri dari unsur fisik dan non fisik. Unsur fisik adalah bagian yang secara langsung dapat dilihat dan atau di raba dalam sebuah karya seni rupa seperti garis, bidang, bentuk, ruang, tekstur, warna dan tone (nada gelap terang). Adapun unsur non fisik adalah prinsip atau kaidah-kaidah umum yang digunakan untuk menempatkan unsur-unsur fisik dalam sebuah karya seni.

14. Unsur-unsur seni rupa Unsur-unsur seni rupa atau unsur-unsur visual tersebut umumnya dikelompokan sebagai berikut: 1. GARIS (line)Garis merupakan unsur mendasar dan unsur penting dalam mewujudkan sebuah karya seni rupa. Perwujudan karya seni rupa pada umumnya diawali dengan coretan garis sebagai rancangannya. 2. RAUT (Bidang dan Bentuk) Raut merupakan tampak, potongan atau bentuk dari suatu objek. Raut dapat terbentuk dari garis yang mencakup ukuran luas tertentu yang membentuk bidang. 3. RUANG. Unsur keruangan dari sebuah karya seni rupa menunjukan dimensi dari karya seni rupa tersebut. Ruang dua dimensi hanya menunjukan ukuran (dimensi) panjang dan lebar sedangkan ruang pada karya seni rupa tiga dimensi terbentuk karena adanya volume yang memberikan kesan kedalaman.

15. 4. TEKSTUR. Unsur tekstur atau barik adalah kualitas taktil dari suatu permukaan. Taktil artinya dapat diraba atau yang berkaitan dengan indra peraba. Disamping itu, tekstur juga dapat dimaknai sebagai penggambaran struktur permukaan suatu objek baik halus maupun kasar. 5. WARNA, Warna pada dasarnya merupakan kesan yang ditimbulkan akibat pantulan cahaya yang mengenai permukaan suatu benda. Pada karya seni rupa, warna dapat berwujud garis, bidang, ruang dan nada gelap terang. 6. GELAP-TERANG. Unsur gelap terang timbul karena adanya perbedaan intensitas cahaya yang jatuh pada permukaan benda. Perbedaan ini menyebabkan munculnya tingkat nada warna (value) yang berbeda.

16. D. Prinsip-prinsip Dasar Seni Rupa Prinsip-prinsip seni rupa adalah unsur non fisik dalam karya seni rupa berupa kaidah atau aturan baku yang diyakini oleh beberapa seniman secara konvensional dapat membentuk sebuah karya seni yang baik dan indah. Kaidah atau aturan baku ini disebut komposisi, Komposisi mencakup tiga bagian pokok yaitu: kesatuan (unity), keseimbangan (balance) dan irama (rhythm), penekanan, proporsi dan keselarasan.

17. 1. Kesatuan (unity), dalam karya seni rupa menunjukkan keterpaduan berbagai unsur (fisik dan non fisik) dengan karakter yang berbeda dalam sebuah karya. 2. Keseimbangan (balance), adalah penyusunan unsur-unsur yang berbeda atau berlawanan tetapi memiliki keterpaduan dan saling mengisi atau menyeimbangkan. Irama (rhythm). Dalam seni rupa, irama merupakan kesan gerak yang timbul dari penyusunan atau perpaduan unsurunsur seni dalam sebuah komposisi.

18. Sub Unit 2 KONSEP DASAR MUSIK A. Pengertian Seni Musik Seni Musik adalah salah satu cabang seni yang menggunakan bunyi sebagai media, ditinjau dari sumber bunyinya, bahannya dan cara memainkannya. Bahkan alat yang digunakan ada yang di tala maupun tidak. Hal inilah yang menyebabkan perbedaan antara musik yang satu dengan lainnya. B. Fungsi Musik Sejak dahulu hingga sekarang musik tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Setiap musik pasti memiliki fungsi yang berbeda antara yang satu dengan lainnya.

19. Dilihat dari fungsi dapat dikelompokan menjadi beberapa bagian, yaitu: 1. Musik sebagai media ekspresi Bagi para seniman, seni adalah merupakan satu-satunya media yang dapat dijadikan sebagai alat untuk mengungkapkan ekspresi yang ada di dalam dirinya. 2. Musik sebagai media hiburan Bagi masyarakat, musik-musik yang merupakan hasil karya cipta para seniman itu dapat memberikan hiburan di sela-sela kesibukannya sehari-hari. 3. Musik sebagai media upacara Musik-musik yang berkembang di masyarakat, selain memiliki fungsi untuk memberikan hiburan kepada masyarakat penggemarnya, ada pula musik-musik yang khusus diciptakan untuk kebutuhan upacara yang biasa dilakukan oleh masyarakat.

20. 4. Musik sebagai media komersial Bagi para seniman, kegiatan bermusik bukanlah hanya kegiatan untuk menyalurkan bakat dan hobbinya di dalam bidang musik, tetapi juga dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk mendapatkan penghasilan tambahan. 5. Musik sebagai iringan tari Jika kalian sering melihat pertunjukan tari, maka di dalam pertunjukan tari tersebut ada unsur musik yang khusus diciptakan untuk mendukung gerakgerak tari yang dipertunjukan. 6. Musik sebagai media pendidikan Sebagai media pendidikan, musik digunakan dalam proses pembelajaran di sekolah. Musik misalnya, digunakan untuk menanamkan nilai-nilai kecintaan siswa terhadap tanah air melalui lagu-lagu perjuangan.

21. B. Teori Dasar Musik 1. Suara 2. Nada Suara dapat dibagi-bagi ke dalam nada yang memiliki tinggi nada atau tala tertentu menurut frekuensinya ataupun menurut jarak relatif tinggi nada tersebut terhadap tinggi nada patokan. 3. Ritme Ritme adalah pengaturan bunyi dalam waktu. Birama merupakan pembagian kelompok ketukan dalam waktu. 4. Melodi Melodi adalah serangkaian nada dalam waktu. Rangkaian tersebut dapat dibunyikan sendirian, yaitu tanpa iringan 5. Harmoni Harmoni secara umum dapat dikatakan sebagai kejadian dua atau lebih nada dengan tinggi berbeda dibunyikan bersamaan, 6. Notasi Notasi musik merupakan penggambaran tertulis atas musik.

22. Sub Unit 3 DASAR-DASAR SENI TARI A. Pengertian Seni Tari Tari merupakan salah satu cabang seni yang diekspresikan melalui ungkapan gerak. Gerak-gerak yang diuntai dalam sebuah tarian merupakan ekspresi sang seniman sebagai alat komunikasi kepada orang lain, sehingga orang lain yang menikmatinya memiliki kepekaan terhadap sesuatu yang ada dalam dirinya maupun yang terjadi di sekitarnya (Syafii, 2000). Berdasarkan uraian di atas, berikut dikemukakan beberapa pengertian tari yang dikutip dari beberapa ahli atau pakar tari, 1. Curt Sahcs seorang ahli musik dan tari dari Jerman dalam bukunya World History of the Dance mengemukakan bahwa “tari adalah gerak yang ritmis”. 2. Corry Hartong dari Belanda dalam bukunya Danskunst, bahwa “tari adalah gerak-gerak yang diberi bentuk dan ritmis dari badan di dalam ruang”.

23. B. Unsur-Unsir Dasar Tari Gerak; Tari merupakan salah bentuk seni yang bisa dinikmati secara visual. Dari sebuah karya tari kita bisa menikmati tidak hanya melalui gerak-gerak yang indah, tapi kita juga melihat busananya, riasnya, propertinya, penarinya dan sebagainya. 2. Tenaga; Secara umum tenaga dibutuhkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan aktivitas kehidupannya di muka bumi ini. Dengan tenaga melahirkan adanya gerakan atau aktivitas.

24. c. Ritme/Irama; Unsur ritme/irama dalam tari penggunaannya akan berkaitan dengan waktu yang digunakan untuk menyelesaikan sebuah gerakan. Waktu sangat berkaitan dengan unsur irama yang memberi nafas sehingga tari tampak hidup. d. Ruang; Pengertian ruang dalam tari adalah tempat yang digunakan untuk kebutuhan gerak.

25. Keberhasilan penari di atas panggung, memerlukan penguasaan secara maksimal dari keempat kriteria ini karena keempatnya saling terkait satu dengan yang lainnya. Keempat kriteria tersebut yaitu: Wiraga yaitu kemampuan penari dalam membawakan tari dari penguasaan teknik gerak, kemampuan secara koreografi, tarian dari awal sampai akhir tarian dengan mulus tanpa cacat termasuk hapalan, ketepatan (teknik) melakukan/menarikan gerak dengan benar dan baik. Wirahma yaitu penguasaan kemampuan penari dalam melakukan gerakan sesuai atau tepat dengan irama musik pengiringnya. 3. Wirasa yaitu kemampuan penari dalam mengekspresikan dan menghayati tarian yang dibawakan. 4. Harmonis yaitu keserasian serta keterpaduan dari seluruh komponen tari yaitu wiraga, wirahma, dan wirasa ketika penari menari di atas panggung.

26. C. Fungsi Pertunjukan Tari di Masyarakat a. Pertunjukan Tari sebagai Sarana Ritual Pertunjukan tari sebagai sarana ritual yang berkembang di Indonesia terdiri dari dari dua jenis yaitu sebagai sarana ritual agama dan sebagai sarana ritual upacara adat. Pertunjukan tari yang banyak digunakan dalam upacara agama terdapat di Bali yang masyarakatnya mayoritas memeluk agama Hindu Dharma. b. Fungsi tari Sebagai Hiburan Pribadi Fungsi tari sebagai hiburan pribadi yaitu pertunjukan tari yang tidak memerlukan penonton, karena penikmat dari tari hiburan pribadi harus melibatkan diri di dalam pertunjukan (art by participation).

27. c. Fungsi Pertunjukan Tari Sebagai Presentasi estetis atau Tari Pertunjukan Yang dimaksud dengan tari sebagai presentasi estetis adalah tari yang diselenggarakan secara khusus dengan melalui penggarapan secara khusus pula. Seni tari dalam konteks pertunjukan melibatkan semua komponen yaitu penari, busana tari, penata tari, penata rias tari, pemain musik tari, penata panggung dengan berbagai perlengkapannya seperti dekorasi (setting), tata lampu, d. Fungsi Tari Sebagai Media Pendidikan Seperti telah diungkapkan pada awal tulisan sub unit ini, fungsi utama seni tari bagi anak-anak kuhususnya di sekolah dasar adalah sebagai media pendidikan. Potensi afektif dan psikomotorik anak dioptimalkan melalui pembelajaran tari disamping potensi kognitif melalui disiplin ilmu tari.

seni

A . Pengertian Seni
Dalam bahasa Sanskerta, kata seni disebut
cilpa
. Sebagai kata sifat,
cilpa
  berarti berwarna, dan kata jadiannya
 su-cilpa
berarti dilengkapi dengan bentuk- bentuk yang indah atau dihiasi dengan indah. Sebagai kata benda
cilpa
berarti pewarnaan, arti ini kemudian berkembang menjadi segala macam kekriaan yangartistik.
Cilpacastra
yang banyak disebut-sebut dalam pelajaran sejarah kesenian,adalah buku atau pedoman bagi para
cilpin
, yaitu tukang, termasuk di dalamnyaapa yang sekarang disebut seniman. Saat itu belum ada pembedaan antaraseniman dan tukang. Pemahaman seni sebagai ekspresi pribadi belum ada dan senimerupakan ekspresi keindahan masyarakat yang bersifat kolektif. Pemahaman ini pada kenyataannya tidak hanya terdapat di India dan Indonesia saja, tetapi jugaterdapat di Barat pada masa lampau.Istilah
 seni
yang disepadankan dengan kata
art 
dalam bahasa Inggris berawal dari, istilah-istilah dalam bahasa Latin pada abad pertengahan
ars
,
artes
,dan
artista
.
 Ars
berarti teknik atau
craftsmanship
, yaitu ketangkasan dankemahiran dalam mengerjakan sesuatu; adapun
artes
berarti kelompok orang-orang yang memiliki ketangkasan atau kemahiran; sedangkan
artista
adalahanggota yang ada di dalam kelompok-kelompok itu. Dengan demikian kata
artista
 kiranya dapat dipersamakan dengan
cilpa
yang berasal dari bahasa Sansekerta.Kata a
rs
inilah yang kemudian berkembang menjadi
l'arte
(Italia),
l'art 
(Perancis),
elarte
(Spanyol), dan
art 
(Inggris), dan bersamaan dengan itu artinyapun berkembangan sedikit demi sedikit kearah pengertiannya seni ini. Walaupundemikian, di Eropa ada juga istilah-istilah lain yang berhubungan dengan seni,orang Jerman menyebut seni dengan
die Kunst 
dan orang Belanda dengan
 Kunst 
,yang berasal dari akar kata yang lain walaupun dengan pengertian yang sama.Bahasa Jerman juga mengenal istilah
die Art 
, yang berarti cara, jalan, atau modus,yang juga dapat dikembalikan kepada asal mula pengertian dan kegiatan seni,namun demikian
die Kunst 
-lah yang digunakan untuk istilah kegiatan yang berhubungan dengan seni.Saat ini, seni sebagai segala bentuk yang memiliki nilai keindahan adalah pengertian yang dipahamai oleh masyarakat pada umumnya. Pengertian umumtersebut diantaranya seperti yang tercantum dalam Kamus Besar BahasaIndonesia, seni diartikan sebagai keahlian membuat karya yang bermutu (dilihatdari segi kehalusannya, keindahannya, dan sebagainya) (Depdikbud, 1989:816).Bentuk-bentuk (karya seni) yang memiliki nilai keindahan tersebut diyakinimemberikan kenikmatan dan kepuasan terhadap jasmani-rohani, pencipta(kreator) ataupun penikmatnya (apresiator). Kesenian tradisional kita, gamelanmisalnya, dikatakan sebagai paduan suara (nada) yang indah yang mengenakkantelinga (pendengaran). Hiasan berupa ukiran yang menempel pada dindingruangan memberikan kesemarakan pandangan mata. Tarian daerah yang lembutdan gemulai juga menyejukkan rasa, setelah kita menikmati dan menghayatinya.Pada kenyataannya istilah
 seni adalah
 segala bentuk yang memiliki nilaikeindahan
tidak selamanya bertahan sebagai satu-satunya definisi. Dalam senikontemporer (termasuk seni modern) yang dihasilkan seniman tidak hanya karyayang indah, tetapi juga karya yang dianggap tidak indah dan tidak menyenangkan.Banyak karya seni kini yang hadir justru “tidak menyenangkan”, tetapimenunjukkan berbagai persoalan yang rumit (sebagai problem kehidupan). Tema dalam seni yang “tidak menyenangkan” ini tumbuh dari manifestasi kesengsaraan,kemelaratan kekacauan atau bahkan protes sosial. Karya seni tersebut dibuatdalam berbagai bentuk ungkapan dengan berbagai teknik dan metode penciptaanyang eksperimental dan bernuansa ekspresif. Seringkali setelah menonton ataumenikmati karya seni teater atau musik kontemporer, perasaan kita serasadigelitik, atau pemikiran kita dikuras dalam upaya menelusuri alur cerita teater dan irama musik yang
absurd 
(tidak mudah dimengerti, tdak enak didengar atautidak berujung pangkal).

wawasan seni

WAWASAN SENI
A. Pengertian Seni 1. Asal mula kata Seni ~ I Gusti Bagus Sugriwa : Seni →Sani (sangsekerta) artinya persembahan, pelayanan, dan pemberian. ~ Padmapusphita : Seni→(Genie/Belanda) →Genius (Latin) artinya kemampuan luar biasa yang di bawa sejak lahir. 2. Definisi Seni a. Seni sebagai Ketrampilan Suatu ketrampilan untuk membuat barang-barang atau mengerjakan sesuatu. b. Seni Sebagai Kegiatan Manusia Suatu kegiatan atau aktifitas manusia dalam melahirkan karya seni. 1) Leo Tolstoy Suatu kegiatan manusia yang secara sadar dengan perantara tanda-tanda lahiriah tertentu menyampaikan perasaan-perasaan yang telah dihayati kepada orang lain sehingga orang lain itu ikut merasakan perasaan-perasaan seperti yang ia alami.
2) Everyman Encyklopedia Segala sesuatu yang dilakukan orang bukan atas dasar dorongan kebutuhan pokoknya, melainkan apa saja yang dilakukan semata-mata karena kehendak akan kemewahan, kenikmatan ataupun kebutuhan spiritual.
3) Achdiat Kartamihardja Kegiatan rohani manusia yang merefleksi kenyataan dalam suatu karya yang berkat bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani si penerimanya.
4) Thomas Munro Alat buatan manusia untuk menimbulkan efek-efek psikologis atas manusia lain yang melihatnya. c. Seni sebagai Karya Seni Seni meliputi setiap benda yang dibuat oleh manusia. d. Seni sebagai Keindahan (seni murni) Seni adalah segala macam keindahan yang diciptakan oleh manusia.
Ki Hadjar Dewantoro Segala perbuatan manusia yang timbul dari hidup perasaannya dan bersifat indah sehingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia.
Teori Keindahan :
1. Teori Subyektif Memandang bahwa keindahan terletak pada diri yang melihat
2. Teori Objektif Memandang bahwa keindahan terletak pada objek yang dilihat.
 Teori Subjektif 1) Socrates Keindahan adalah segala sesuatu yang menyenangkan dan memenuhi keinginan terakhir. 2) Emanuel Kant Keindahan adalah yang menyenangkan tanpa pamrih dan tanpa adanya konsep-konsep tertentu. 3) Fichte Keindahan bukan terletak pada objek, tetapi terdapat dalam batin atau jiwa. Teori Objektif 1) Santo Agustinus Keindahan ialah kesatuan bentuk-bentuk. 2) Thomas Aquinas Ada tiga syarat yang dikatakan indah: pertama kesatuan, kedua proporsi yang tepat, ketiga adanya klaritas atau kejelasan. 3) Herbert Read Keindahan adalah kesatuan hubungan bentuk-bentuk. e. Seni sebagai Proses Kreasi Seni adalah pengalaman estetik yang diwujudkan melalui kegiatan kegiatan kreatif yang menghasilkan karya pesona. B. Cabang-cabang Seni 1. Seni Rupa Menurut bentuknya: 1). Seni rupa dua dimensi ( dwi matra) 2). Seni rupa tiga dimensi ( tri matra ) Cabang-cabang seni rupa : Seni Lukis 1) Sketsa Macamnya : sketsa rencana, sketsa lukis dan sketsa catatan 2) Gambar Macamnya : gambar bentuk, gambar model, gambar ilustrasi, gambar dekorasi, gambar desain dan gambar arsitektur. 3) Lukisan b. Seni Reklame Berasal dari kata Re dan Clamo (Latin) Re artinya berulang-ulang/kembali dan Clamo artinya seruan/panggilan. Jenis-jenis reklame : 1) Iklan/advertensi 2) Sticker 3) Pamflet/plakat dan Selebaran 4) Etiket 5) Cap dagang 6) Katalogus 7) Logo/inisial 8) Slide 9) Etalase 10) Spanduk 11) Brosur 12) Poster 13) Baleho 14) Cut out display 15) Billboard (Reklame papan) 16) Name board (Papan nama) 17) Neon lamp-Neon box c. Seni Ilustrasi Berasal dari kata Ilustration (Inggris)→ Ilustrare (Latin) artinya : menjelaskan atau menerangkan sesuatu. Jenis-jenis Ilustrasi : 1) Ilustrasi cerita a) Ilustrasi cerita bergambar (komik) b) Ilustrasi cerpen atau novel/roman c) Ilustrasi kartun 2) Ilustrasi artikel 3) Ilustrasi cover 4) Karikatur 5) Vignet d. Seni Grafis Berasal dari kata grafos (Yunani ) yang artinya tulisan atau gambar yang dibuat dengan jalan menggoreskan benda tajam di atas lempengan batu atau logam Jenis-jenis cetakan (klise) seni grafis : 1). Cetak tinggi 2). Cetak dalam 3). Cetak datar 4). Cetak saring e. Seni Dekorasi Berasal dari kata decoration (Inggris) yang berati hiasan atau menghias. Macam-macam seni dekorasi : 1). Seni dekorasi dua dimensi a). Motif hias b). Seni lukis hias : Tempera, Al Fresco, Al Secco, mozaik, intarsia, Aplikasi, Mural, Kolase. 2). Seni dekorasi tiga dimensi a). Seni hias tiga dimensi b). Seni interior c). Seni eksterior f. Seni Patung Merupakan cabang seni yang proses penciptaannya diwujudkan lewat bentuk tiga dimensi sehingga dapat dilihat dari berbagai arah. g. Seni Kria Merupakan seni yang proses penciptaannya memerlukan skill atau ketrampilan yang tinggi 2. Seni Tari Seni yang dihasilkan dari gerak, mimik, dan tingkah laku seseorang. Unsur-unsur seni tari : a. Wiraga Wit : asal atau dasar, raga : badan/anggota tubuh. artinya penataan badan dan bagian tubuh lainnya yang bergerak. b. Wirama Suatu pola untuk mencapai suatu gerakan yang harmonis. c. Wirasa Merupakan tingkatan penghayatan dan penjiwaan dari sebuah tarian. Fungsi Tari : 1). Tarian sakral Jenis tarian yang dianggap suci atau keramat (adat, kepercayaan, keagamaan), misal tari Pendet, Rejang, Mapeling, Ngaben, dan Kuda Lumping. 2). Tarian profan Jenis tarian yang berhubungan dengan masyarakat. a). Tari pergaulan misal : tari Tayuban, Ketuk Tilu, dan Joged b). Tari pertunjukkan/tontonan ( tarian lepas dan dramatari ) misal : tari tunggal, berpasangan, dan kelompok. Tema Tari : 1). Tari pantomin Menirukan gerak-gerik alam, binatang, dan kehidupan manusia, misalnya : tari Kupu-kupu ; Merak; Berburu ; Nelayan dll. 2). Tari erotik Mengandung isi yang erotik atau percintaan, misalnya : tari Gambyong ; Joged ; Ma Engket ; Serampang 12 ; Anjasmara dll. 3). Tari heroik Mengandung unsur kepahlawanan atau berbentuk perang, misalnya : Tari Mandau ; Perang Gatot Kaca ; Arjuna melawan Cakil dll. Susunan/koreografi tari : 1). Tarian rakyat ( tidak mengindahkan norma-norma keindahan tertentu ) misal : tarian sakral dan tari profan 2). Tari klasik ( standar keindahan baku ) misal : tari Wayang ( Arjuna , Srikandi, Gatot Kaca, Balet) 3). Tari kreasi baru (mengutamakan selera penyusun ) misal : Kupu-kupu, Sekar Putri, Jaipong dll. 3. Seni Sastra Berasal dari kata susastra (Sangsekerta). Su→baik, bagus dan sastra→buku, tulisan atau huruf. Jadi kesusastraan artinya tulisan yang mempunyai bahasa yang indah dan baik. Seni sastra menurut bentuknya : a.Puisi 1). Puisi lama 2). Puisi baru 3). Puisi modern b. Prosa 1). Prosa lama 2). Prosa baru/modern c. Prosa Lirik Seni sastra menurut sifat dan isinya : 1). Epik (objektif ) 2). Lirik ( subjektif ) 3). Dramatik ( paparan ) 4. Seni Teater Berasal dari kata theatron (Yunani) yang artinya gedung pertunjukkan, pertunjukkan itu sendiri dan penonton. Istilah yang berhubungan dengan seni teater yaitu drama dan sandiwara. Drama→dramas (Yunani) artinya suatu perbuatan/ kumpulan pertunjukkan perikehidupan seseorang. Sandiwara (sangsekerta), sandi →rahasia/lambang, dan wara→pelajaran. Seni Drama (teater, sandiwara )→seni pertunjukkan yang menyajikan perikehidupan manusia di atas pentas. Pembagian drama Drama menurut masa : 1). Drama lama atau tradisional 2). Drama klasik atau sandiwara Drama menurut isi : 1). Drama tragedi 2). Drama komedi 3). Drama tragedi-komedi Jenis drama : 1). Drama tragedi 2). Drama komedi 3). Melodrama 4). Farce 5). Lelucon dan dagelan 6). Opera dan operette 7). Pantomim atau tableu Drama menurut teori mutakhir : 1). Drama teater 2). Drama film atau televisi 5. Seni Musik Asal mula kata musik ~ Berasal dari kata mousikos/mosike (Yunani ) atau musika/musa (Latin) atau muse (Inggris). Kata ini di ambil dari nama salah satu dewa Yunani yaitu mousikos yang dilambangkan sebagai dewa keindahan dan menguasai bidang kesenian dan ilmu pengetahuan. ~ Adapula yang mengatakan seni dari kaum muzen. Menurut pujangga Hesiodus, mahadewa Zeus dengan permaisurinya Muemosyna mempunyai sembilan putri : 1). Dewi Clio menguasai sejarah 2). Dewi Euterpe menguasai puisi liris 3). Dewi Thalia menguasai komedi 4). Dewi Melphomene menguasai tragedi 5). Dewi Erato menguasai pantomim dan syair cinta 6). Dewi Polyhymnia menguasai hymne 7). Dewi Calliope menguasai syair kepahlawanan 8). Dewi Urania menguasai bintang 9). Dewi Tersichore menguasai seni tari dan musik Arti musik a. Menurut R.G Esscher, Erickson dan Dr. Mantle hood, musik adalah gerakan dan totalitanya musik merupakan sifat-sifat ritmis, harmonis dan ia adalah suatu energi psikis yang segera menyatakan diri keluar dalam formasi nada-nada tertentu . b. Aaron Copland berpendapat bahwa musik terdiri dari empat unsur pokok yakni ; ritme, melodi, harmoni dan tone colour ( warna nada ) c. Para ahli ilmu jiwa berpendapat bahwa musik adalah bahasa atau curahan jiwa. Pendapat ini dianut oleh filosof Emanuel Kant. d. E. Hanslick berpendapat bahwa musik adalah gerakan bunyi (“ the essence of music sound in motion” ) e. Ditinjau dari segi ilmu fisika/ ilmu alam, menurut K.S Laurila musik adalah deretan nada yang secara obyektif tidak lebih dari getaran-geatran udara dan secara subjektif hanya kesan-kesan pendengaran saja. f. Ditinjau dari segi bentuknya musik adalah sekumpulan nada yang mengandung ritme, melodi dan harmoni yang keseluruhannya merupakan suatu kesatuan (unity) serta merupakan sutau pernyataan ide musikal tertentu. g. Menurut Aristoteles musik adalah curahan kekuatan tenaga batin dan tenaga penggambaran yang berasal dari gerak rasa dalam sutau rentetan suara (melodi) yang berirama. h. Pendapat lain menyatakan bahwa musik adalah totalita fenomena akustik yang diuraikan terdiri atas tiga unsur pokok yakni: 1) unsur yang bersifat material 2) unsur yang bersifat spiritual 3) unsur yang bersifat moral i. Adapula yang mengatakan bahwa musik adalah segala bunyi. Dan masih banyak lagi definisi yang lainnya Unsur-unsur musik 1. Ritme 2. Melodi 3. Harmoni 4. Tone colour (waran nada) 5. Kekuatan syair C. Fungsi Seni 1. Fungsi Umum Seni Menurut Charles Batteaux fungsi seni dibagi dua bagian : a. Seni murni/seni indah (pure art/fine art) Seni yang semata-mata hanya terikat pada kepentingan estetis. Penikmatannya lebih pada kebutuhan emosional. b. Seni pakai/seni guna (applied art/useful art) Seni yang diciptakan selain terikat kepentingan estetis juga terikat kepentingan utamanya. 2. Fungsi Individual Seni a. Fungsi Individual yang memenuhi kebutuhan emosional Seni merupakan sarana untuk mengungkapkan jiwa dan emosi, menyatakan keberadaan (existensi), menuangkan rasa estetis dan perasaan-perasaan lainnya. b. Fungsi Individual yang memenuhi kebutuhan fisik Seni yang penekanan penciptaanya lebih diutamakan pada kegunaan 3. Fungsi Sosial Seni a. Bidang Rekreasi b. Bidang Komunikasi c. Bidang Keagamaan d. Bidang Pendidikan D. Tujuan Seni 1. Tujuan Ritual 2. Tujuan Ekspresi 3. Tujuan Komersial