Liana Arum Purwitasari

tanpa tanda jasa
SELAMAT DATANG DI BLOG LIANA ARUM PURWITASARI

Minggu, 06 Mei 2012

Bab III PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT


A.   Siklus Belajar Individu di Masyarakat

Secara  singkat  pendidikan  merupakan  produk  dari  masya-
rakat,  karena  apabila  kita  sadari  arti  pendidikan  sebagai  proses
transmisi   pengetahuan,   sikap,   kepercayaan,   keterampilan   dan
aspek-aspek  kelakuan  lainnya  kepada  generasi  muda  maka  selu-
ruh  upaya  tersebut  sudah  dilakukan  sepenuhnya  oleh  kekuatan-
kekuatan  masyarakat.  Hampir  segala  sesuatu  yang  kita  pelajari
merupakan hasil hubungan kita dengan orang lain baik di rumah,
sekolah, tempat permainan, pekerjaan dan sebagainya. Wajar pula
apabila  segala  sesuatu  yang  kita  ketahui  adalah  hasil  hubungan
timbal balik yang ternyata sudah  sedemikian  rupa dibentuk oleh
masyarakat kita.
Bagi  masyarakat  sendiri  hakikat  pendidikan  sangat  berman-
faat  bagi  kelangsungan  dan  proses  kemajuan  hidupnya.  Agar
masyarakat  itu  dapat  melanjutkan  eksistensinya,  maka  kepada
anggota mudanya harus diteruskan nilai-nilai, pengetahuan, kete-
rampilan dan bentuk tata perilaku lainnya yang diharapkan akan
dimiliki  oleh  setiap  anggota.  Setiap  masyarakat  berupaya  mene-
ruskan  kebudayaannya  dengan  proses  adaptasi  tertentu  sesuai
corak masing-masing periode jaman kepada generasi muda mela-
lui  pendidikan,  secara  khusus  melalui  interaksi  sosial.  Dengan
demikian pendidikan dapat diartikan sebagai proses sosialisasi.
Dalam pengertian tersebut, pendidikan sudah dimulai semen-
jak seorang individu pertama kali berinteraksi dengan lingkungan
eksternal di luar dirinya, yakni keluarga. Seorang bayi yang baru
lahir  tentunya  hidup  dalam  keadaan  yang  tidak  berdaya  sama
sekali.  Menyadari  hal  demikian  sang  ibu  berupaya  memberikan
segala   bentuk   curahan   kasih   sayang   dan   buaian   cinta   kasih
melalui  air  susunya,  perawatan  yang  lembut  serta  gendongan
yang   begitu   mesra   kepada   si   bayi.   Begitulah   proses   tersebut
berlangsung selama si bayi masih tetap memerlukan pertolongan
intensif dari manusia lain. Sampai pada umur lima tahun bayi itu
tumbuh  dan  berkembang  dengan  sehat  di  dalam  mahligai  cinta
perpaduan  sepasang  manusia  yang  menjadi  orang  tuanya.
Dari  sini  bisa kita sadari  selain anggota keluarga baru itu belajar
mengetahui,    mempelajari    serta    melakukan    berbagai    reaksi
terhadap stimulus dari dunia barunya maka bisa kita cermati pula
bahwa  sang  bayi  juga  memahami  esensi  nilai-nilai  kemanusiaan
dari  keluarganya    dalam  bentuk  gerak  tubuh,  belajar  berbicara,
tertawa serta semua tindak tanduk yang menggambarkan bahwa
jiwa raganya telah terpaut erat oleh belaian kasih sayang manusia
dewasa.
Ilustrasi  di  atas  hanyalah  sekelumit  kecil  dari  siklus  belajar
individu  di  dalam  masyarakat.  Proses  tersebut  berlangsung  pula
ketika   kita   menjadi   manusia  dewasa.  Apabila   kita  memenuhi
kewajiban  sebagai  saudara  laki-laki,  suami  atau  warga  negara
serta  menjalankan  hal-hal  lain  yang  tertanam  kuat  dalam  benak
kesadaran kita, itu berarti kita melakukan tugas yang sudah diten-
tukan  secara  eksternal  oleh  hukum-hukum  kodrat  sosial  (droit)
dan  kebiasaan-kebiasaan  yang  berkembang  begitu  alamiah  dari
lingkungan sosial. Kewajiban itu muncul  bukan hasil  dari proses
pemaksaan  eksternal  yang  mekanistis  melainkan  selalu  diikuti
oleh   gejala   resiprositas   individu   dengan   lingkungan   luarnya
sehingga  pada  tahap  akhirnya  masyarakat  telah  menghasilkan
ribuan   atau   bahkan   jutaan   manusia   yang   tunduk   lahir   batin
dengan   ketentuan-ketentuan   kolektif   (Abdullah   dan   Van   der
Leeden, 1986).
Selain  itu,  dimensi  sejarah  juga  berbicara  serupa.  Ratusan
tahun  silam  pendidikan  berjalan  beriringan  dengan  struktur  dan
kebutuhan  sosial  masyarakat  setempat.  Bagi  masyarakat  seder-
hana yang belum mengenal tulisan  maka para pemuda memper-
oleh tranformasi pengetahuan lewat media komunikasi lisan yang
berbentuk dongeng, cerita-cerita dari orang tua mereka. Selain itu,
pada   siang   hari   pemuda-pemuda   ini   harus   selalu   sigap   dan
tanggap  mempelajari,  mencermati  dan  belajar  mengaplikasikan
teknik-teknik mencari nafkah yang dikembangkan oleh para orang
tua  baik  itu  menangkap  ikan,  memanah,  beternak,  berburu  dan
sebagainya  (Purbakawatja  dkk.,  1955).    Dalam  cerita-cerita  lisan
itu  tersirat  pula  adat  dan  agama,  cara  bekerja  dan  cara  ber-
sosialisasi yang berkembang di masyarakatnya. Tidak mengheran-
kan  apabila  cerita  yang  sudah  turun  temurun  diwariskan  itu
dianggap sebagai sesuatu yang bernilai suci. Sejarah, adat istiadat,
norma-norma  bahkan  cara  menangkap  ikan  atau  berburu  tidak
hanya  dipandang  sebagai  hasil  pekerjaan  manusia  semata,  tetapi
memiliki  makna  sakral  yang  patut  disyukuri  dengan  beberapa
persembahan serta upacara-upacara ritual.
Begitulah perjalanan pendidikan anak manusia telah berlang-
sung organis sesuai dengan iklim sosialnya. Sedangkan keperluan
khusus  untuk  mendirikan  sebuah  lingkungan  perguruan  yang
mapan  dimulai  ketika  bangsawan-bangsawan  feodal  membutuh-
kan prajurit-prajurit serta punggawa kerajaan yang tangguh demi
mempertahankan  harta  kekayaan  milik  sang  raja.  Mereka  secara
khusus   dididik   dalam   lingkungan   tersendiri   agar   memiliki
kecakapan dan keahlian tertentu sesuai dengan kebutuhan sistem
sosial  masyarakat  aristokrasi-feodal.  Mereka-mereka  ini  menjadi
ujung  tombak  pelaksana  kekuasaan  kerajaan  di  hadapan  ribuan
rakyat   jelata   yang   memang   dibikin   bodoh.   Melihat   situasi
demikian,  wajar  apabila  jaman  ini  predikat  golongan  terdidik
hanya bisa dimiliki oleh sanak saudara sang raja serta kaum-kaum
agamawan yang telah memperkuat hegemoni kekuasaannya.
Namun  seiring  dengan  bertambahnya  umur  bumi  ini  maka
kisah  pergulatan  karakter  masyarakat  tersebut  mulai  bergeser
selaras dengan  kecenderungan  spirit jaman  yang sudah  berubah.
Bagaimanapun juga penderitaan rakyat yang menjadi bahan bakar
perputaran gerigi kehidupan feodal telah mencapai titik klimaks-
nya. Kekuasaan para raja yang bersenyawa dengan kekuatan gere-
ja  secara  perlahan-lahan  mulai  runtuh.  Dimulai  dengan  penen-
tangan  sejumlah  ilmuwan  yang  mampu  membuktikan  kesalahan
dogma-dogma  teologis  tentang  hukum  alam.  Berbagai  peristiwa
lain   juga   memiliki   andil   besar   dalam   menentukan   lahirnya
semangat  jaman  yang  semakin  konsekuen  menghargai  arti  kebe-
basan, baik itu reformasi gereja oleh Martin Luther King, revolusi
sosial  di  beberapa  tempat  yang  secara  simbolis  telah  dipresen-
tasikan  oleh  gelora  heroisme  revolusi  Perancis  pada  sekitar  per-
tengahan   abad    ke-18,   serta    meningkatnya   hasil    pemikiran-
pemikiran  ilmiah  para  ilmuwan  humanis  yang  mampu  diter-
jemahkan   dengan   penciptaan   teknik-teknik   peralatan   industri.
Praktis   kecenderungan   fakta   sosial   demikian   secara   perlahan-
lahan  mampu  mengubah  inti  kebijakan  masyarakat  yang  ber-
hubungan dengan pengajaran. Selain karena meluapnya industri-
industri manufaktur, pengaruh penerapan demokrasi, ditemukan
nya beberapa wilayah baru yang bisa dieksploitasi kekayaan alam-
nya  serta  peningkatan  diferensiasi  struktural  maka  masyarakat
Eropa  Barat  harus  bisa  menyediakan  kelompok  manusia  dalam
jumlah massal yang memiliki kemampuan teknis untuk menjalan-
kan lahan-lahan pekerjaan baru yang begitu kompleks dan cukup
rumit.  Oleh  sebab  itulah  beberapa  wilayah  Eropa  Barat  mulai
menerapkan   sistem   pendidikan   modern   yang   memanfaatkan
mekanisme   organisasi   formal   dalam   mengelola   proses   pendi-
dikannya.
Itulah  cuplikan  kecil  argumentasi  sederhana  tentang  renik-
renik  karakter  fungsi  pendidikan  di  masyarakat.  Melihat  alur
perkembangannya maka berbagai jenis konfigurasi pendidikan di
atas    sesuai    dengan    konsep    yang    diutarakan    oleh    Randall
Collins,1979 ( dalam  Sanderson ,1993 : 489) tentang tiga tipe dasar
pendidikan yang hadir di seluruh dunia, yakni ,
1.    Pertama jenis pendidikan keterampilan dan praktis, yakni pen-
didikan yang dilaksanakan untuk memberikan bekal keteram-
pilan maupun kemampuan teknis tertentu agar dapat diaplika-
sikan   kepada   bentuk   mata   pencaharian   masyarakat.   Jenis
pendidikan  ini  dominan  di  dalam  masyarakat  yang  masih
sederhana  baik  itu  berburu  dan  meramu,  nelayan  atau  juga
masyarakat agraris awal.
2.    Pendidikan  kelompok status, yaitu pengajaran yang diupaya-
kan  untuk  mempertahankan  prestise,  simbol  serta  hak-hak
istimewa   (privilige)   kelompok   elit   dalam   masyarakat   yang
memiliki   pelapisan   sosial.   Pada   umumnya   pendidikan   ini
dirancang  bukan  untuk  digunakan  dalam  pengertian  teknis
dan   sering   diserahkan   kepada   pengetahuan   dan   diskusi
badan-badan pengetahuan esoterik. Pendidikan ini secara luas
telah   dijumpai   dalam   masyarakat-masyarakat   agraris   dan
industri.
3.    Tipe pendidikan birokratis yang diciptakan oleh pemerintahan
untuk melayani kepentingan kualifikasi pekerjaan yang berhu-
bungan   dengan   pemerintahan   serta   berguna   pula   sebagai
sarana  sosiolisasi  politik   dari   model  pemerintahan   kepada
masyarakat awam. Tipe pendidikan ini pada umumnya mem-
beri  penekanan  pada  ujian,  syarat  kehadiran,  peringkat  dan
derajat. 
Demikianlah  tipe-tipe  pendidikan  tersebut  telah  mewarnai
corak  kehidupan  masyarakat.  Pada  dasarnya  ketiga  jenis  pendi-
dikan  di  atas  selalu  hadir  dalam  setiap  masyarakat  hanya  saja
prosentasi  penerapan  salah  satu  karakter  pendidikan  berbanding
searah  dengan  model  masyarakat  yang  terbentuk.  Akan  tetapi
tidak  dapat  dipungkiri  pula  ternyata  gelombang  sejarah  dunia
juga   menentukan   model   konfigurasi   masyarakat   dunia   secara
global dan hal ini juga memiliki pengaruh bagi iklim pendidikan.
Pengaruh  modernisasi  di  berbagai  sektor  kehidupan  telah  mela-
hirkan karakter pendidikan yang hampir sama meskipun memiliki
ciri  khas  tertentu  di  tiap-tiap  negara  pada  akhir  abad  ke  20  an.
Sebagaimana  penuturan  Tilaar  (2003:  62)  bahwa  dalam  masya-
rakat yang sudah maju, proses pendidikan sebagian dilaksanakan
dalam lembaga pendidikan yang disebut sekolah dan pendidikan
dalam lembaga-lembaga tersebut merupakan suatu kegiatan yang
lebih  teratur  dan  terdeferensiasi.  Inilah  pendidikan  formal  yang
biasa dikenal oleh masyarakat sebagai "schooling".
Untuk   melihat   latar   belakang   dari   menyeruaknya   situasi
sosial dunia pendidikan demikian, pada kesempatan lain Randall
Collins  dalam  karya  Sanderson  (1993:  429)  juga  mengungkapkan
analisis    fungsional    untuk    menjelaskan    ekspansi    pendidikan
modern sebagai akibat dari lahirnya kebutuhan-kebutuhan kuali-
fikasi  mahir  bagi  corak  masyarakat  modern.  Pendidikan  dilihat
memiliki kontribusi positif  demi menjalankan roda perekonomian
serta putaran gerigi-gerigi mesin industri masyarakat pendukung-
nya. Prinsip-prinsip tersebut antara lain yaitu,
1.    Persyaratan    pendidikan    dari    pekerjaan-pekerjaan    dalam
masyarakat industri yang terus meningkat sebagai akibat dari
adanya perubahan teknologi yang memiliki dua aspek yaitu,
a.
Proporsi  pekerjaan  yang  memerlukan  keterampilan  yang
rendah  berkurang  sementara  proporsi  yang  memerlukan
keterampilan tinggi bertambah.
b.    Pekerjaan-pekerjaan    yang    sama    terus    meningkatkan
persyaratan keterampilannya.
2.    Pendidikan  formal  memberi  latihan  yang  diperlukan  kepada
orang-orang untuk mendapat pekerjaan yang berketerampilan
lebih tinggi.
3.    Sebagai  akibat  dari  yang  disebut  di  atas,  persyaratan  pendi-
dikan  untuk  bekerja  terus  meningkat  dan  semakin  banyak
yang  dituntut  untuk  menghabiskan  waktu  yang  lebih
lama di sekolah.
Dari  analisis  tersebut  kiranya  cukup  jelas  pemahaman  kita
apabila  masyarakat  Indonesia  semenjak  kemerdekaannya  tidak
pernah lepas dari kehidupan pendidikannya. Dengan upaya pene-
rapan sekolah secara merata bagi rakyat di seluruh penjuru tanah
air dapat kita rasakan manfaat besarnya dalam membantu meno-
pang ekskalasi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Baik  itu  wajah  materiil  hasil  pembangunan  fisik  wilayah  negara
kita  maupun  peningkatan  pola  pikir  manusia  Indonesia  yang
semakin cerdas menjadi bukti kuat prestasi pendidikan kita. Bisa
disimpulkan pula bahwa alam reformasi yang kita rasakan saat ini
merupakan  salah  satu aspek jerih  payah  kerja sekolah-sekolah  di
Indonesia  (termasuk  perguruan  tinggi)  demi  mencapai  cita-cita
rakyat Indonesia.
Dalam konteks sosial, pendidikan juga memiliki fungsi, peran
dan   kiprah   lain   yang   berkorelasi   dengan   kekuatan-kekuatan
kolektif  yang  sudah  mapan.  Tidak  hanya  puas  dalam  kondisi
demikian   pendidikan   juga   memberikan  andil  menterjemahkan
nilai-nilai  baru  yang  tumbuh  akibat  proses  pergulatan  sejarah
dalam  wujud  emansipasi  integrasi  dengan  sistem  dan  struktur
sosialnya.   Sehingga   dengan   begitu   masyarakat   tidak   pernah
kering dari dinamika perubahan dan evolusi sosialnya.

B.   Fungsi-fungsi Sekolah

Secara  mendasar  sekolah  bertugas  untuk  memberikan  bekal
pengetahuan,   keterampilan   dan   kemampuan   yang   diperlukan
seseorang   agar   ia   dapat   menapaki   perjalanan   kedewasaannya
secara  utuh  dan  tersalurkannya  bakat-bakat  potensial  yang  ia
miliki.  Namun  dalam  konteks  sosial  pada  kenyataannya  sekolah
mempunyai beberapa fungsi yakni:

1.    Sekolah  mempersiapkan  seseorang  untuk  mendapat  suatu
pekerjaan
Apabila  kita  meninjau  secara  menyeluruh  proses  perjalanan
pendidikan  sepanjang masa,  maka kita  segera melihat  kenyataan
bahwa kemajuan dalam pendidikan beriringan dengan kemajuan
ekonomi   yang   secara   bersamaan   melaju   pesat   dengan   proses
evolusi teknik berproduksi masyarakat.
Dalam  masyarakat  bercorak  agraris  yang  stabil  pendidikan
menyangkut  penyampaian  keterampilan-keterampilan,  keahlian,
adat istiadat serta nilai-nilai. Sementara itu pada sistem ekonomi
masyarakat    maju,    sistem    pendidikan    tentunya    mempunyai
kecenderungan  untuk  memberikan  pengetahuan  dalam  jumlah
yang   terus   bertambah   kepada   kelompok-kelompok   manusia
dalam  jumlah  besar,  karena  proses-proses  produksi  yang  lebih
seksama menghendaki pekerja memiliki kualifikasi keahlian yang
tinggi (Faure dkk., 1981). Oleh sebab itu penerapan sistem sekolah
bermaksud    untuk    memberikan    kompetensi-kompetensi    jenis
keahlian     dalam     lahan     pekerjaan     yang     terbentang     luas
kompleksitasnya.
Anak    yang    menamatkan    sekolah    diharapkan    sanggup
melakukan  pekerjaan  sesuai  dengan  kebutuhan  dunia  pekerjaan
atau  setidaknya  mempunyai  dasar  untuk  mencari  nafkah.  Makin
tinggi pendidikan makin besar harapannya memperoleh pekerjaan
yang layak dan memiliki prestise tinggi. Dengan ijasah yang tinggi
seseorang      dapat      memahami      dan      menguasai      pekerjaan
kepemimpinan atau tugas lain yang dipercayakan kepadanya.

2.    Sebagai alat transmisi kebudayaan
Fungsi    transmisi    kebudayaan    masyarakat    kepada    anak
menurut Vembriarto (1990) dapat dibedakan menjadi dua macam,
yaitu (1) transmisi pengetahuan & keterampilan, dan (2) transmisi
sikap,  nilai-nilai  dan  norma-norma.  Transmisi  pengetahuan  ini
mencakup   pengetahuan   tentang   bahasa,   sistem   matematika,
pengetahuan     alam     dan     sosial     serta     penemuan-penemuan
teknologi.   Dalam   masyarakat   industri   yang   kompleks,   fungsi
transmisi  pengetahuan  tersebut  sangat  penting  sehingga  proses
belajar  di  sekolah  memakan  waktu  lebih  lama,  membutuhkan
guru-guru dan lembaga yang khusus. Dalam arti sempit transmisi
pengetahuan  dan  keterampilan  itu  berbentuk  vocational  training.
Di  masyarakat  Jawa,  ayah  mengajarkan  kepada  anaknya  cara
mempergunakan  cangkul  serta  peralatan  pertanian  lain  secara
intensif   sampai   sang   anak   memahami   teknik-teknik   tertentu
membudidayakan  tanaman  pangan  yang  sudah  ratusan  tahun
dikembangkan  oleh  nenek  moyang  pendahulunya.  Sementara  di
sekolah   teknik,   anak   belajar   bagaimana   caranya   memperbaiki
mobil.  Dalam  kategori  transmisi  pengetahuan  dan  keterampilan
fungsi dari sekolah modern tidak berbeda jauh dengan penerapan
pendidikan  tradisional  yang  dilakukan  oleh  bermacam-macam
sukubangsa  semenjak  ratusan  tahun  silam.  Hanya  saja  sekolah
memiliki  perangkat  penataan  serta  organisasi  sumber  daya  yang
lebih sistematis dan terpadu dalam penyelenggaraan pendidikan-
nya.  Namun  tak  dapat  dipungkiri  output  pendidikan  juga  men-
jamin kualitas yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Anak
masyarakat Jawa belajar menjadi petani yang   baik sesuai dengan
tuntutan  masyarakatnya  sementara  di  era  modern  ini  sekolah
dapat   menghasilkan   ratusan   tenaga   terampil   sesuai   dengan
spesifikasi keahliannya.
Dari   segi   transmisi   sikap,   nilai-nilai   dan   norma-norma
masing-masing   lembaga   dalam   konteks   karakter   sosiokultural
juga tidak bisa dipungkiri peran dan fungsinya. Pemuda-pemuda
dari  masyarakat  Jawa  yang  masih  tradisional  harus  mengikuti
dengan  cermat  model-model  penggemblengan  spiritual  di  kala
mereka    akan    menginjak    dewasa    melalui    lembaga-lembaga
pendidikan  seperti  padepokan, pondok pesantren  dan  sejenisnya
yang  tumbuh  subur  dalam  perjalanan  kebudayaan  masyarakat
setempat.  Wujud  keberadaan  lembaga  tersebut  merupakan  bukti
tentang  kiprah  peranan  lembaga  pendidikan  dalam  mengupaya-
kan  terjaminnya  transformasi  nilai-nilai  dan  norma  yang  senan-
tiasa  dijunjung  tinggi.  Sementara  itu,  dalam  masyarakat  modern
di   sekolah,   anak   tidak   hanya   mempelajari   pengetahuan   dan
keterampilan,   tetapi   juga   sikap,   nilai-nilai   dan   norma-norma.
Sebagian  besar  sikap  dan  nilai-nilai  itu  dipelajari  secara informal
melalui  situasi  formal  di  kelas  dan  di  sekolah.  Melalui  contoh
pribadi  guru,  isi  cerita  buku-buku  bacaan  pelajaran  sejarah  dan
geografi serta situasi lingkungan sekolah anak mempelajari sikap,
nilai-nilai dan norma-norma masyarakat
  

3.    Sekolah mengajarkan peranan sosial
Pendidikan   diharapkan   membentuk   manusia   sosial   yang
dapat bergaul dengan sesama manusia sekalipun berbeda agama,
suku   bangsa,   pendirian   dan   sebagainya.   Ia   juga   harus   dapat
menyesuaikan diri dalam situasi sosial yang berbeda-beda.
Kalau  diselidiki,   tentu  akan   ditemukan  bermacam-macam
alasan lain mengapa orang tua menyekolahkan anaknya. Misalkan
menyekolahkan anak gadis sampai ada yang meminangnya, atau
menyerahkan  anaknya  ke  dalam  pengawasan  guru  karena  lebih
sulit mengurusinya sendiri di rumah dan sebagainya.

4.    Sekolah menyediakan tenaga pembangunan
Bagi    negara-negara    berkembang,    pendidikan    dipandang
menjadi   alat   yang   paling   ampuh   untuk   menyiapkan   tenaga
produktif  guna  menopang  proses  pembangunan.  Kekayaan  alam
hanya   mengandung   arti   bila   didukung   oleh   keahlian.   Maka
karena itu manusia merupakan sumber utama bagi negara.
Menurut analisis Faisal dan Yasik (1985) sepanjang dasawarsa
60-an,  dunia  pendidikan  memiliki  andil  besar  dalam  membantu
proyek negara untuk bangkit melakukan pembangunan di segala
bidang.  Persekolahan  di  kala  itu,  menjadi  pusat  perhatian  dan
dambaan    para    perencana    yang    mengupayakan    perubahan-
perubahan  besar,  baik  dalam  bidang  ekonomi  maupun  sosial,
menjadi pusat perhatian para politisi yang berusaha membangun
semangat     kebangsaan,     serta     menjadi     kepentingan     warga
masyarakat  yang  berharap  menemui  peningkatan  kesejahteraan
hidupnya.  Di  awal-awal  dasawarsa  60-an  ada  suatu  keyakinan
kuat dari seluruh komponen masyarakat tentang urgensi lembaga
pendidikan  bagi  proses  modernisasi  dan  industrialisasi.  Sistem
pendidikan  dipandang  sebagai  penghasil  tenaga-tenaga  terampil
dan juga pengetahuan baru yang dibutuhkan bagi perkembangan
teknologi    dan    ekonomi.    Sistem    pendidikan,    juga    dianggap
berandil  besar  dalam  menanamkan  disiplin,  sikap  dan  motivasi
sumber   daya   manusia   guna   menopang   perkembangan   indus-
trialisasi.  Dalam  hubungan  ini,  modal  manusiawi  dianggap  jauh
melebihi pentingnya modal-modal fisik apapun juga; bahkan bagi
para  ahli  ekonomi  yang  agresif  sampai  menunjukkan  perbedaan
signifikansi modal dalam wujud angka-angka presentase. Mereka-
mereka ini  memiliki  keyakinan  kuat bahwa orang-orang terdidik
begitu  produktif  dalam  melaksanakan  tugas  pekerjaan,  tanggap
terhadap tuntutan keterampilan baru, serta mampu menunjukkan
loyalitas  yang  lebih    tinggi  terhadap  dunia  pekerjaannya.  Inilah
salah satu bukti dari kiprah pendidikan di Indonesia pada waktu 
dan lapisan masyarakat memiliki hajat besar untuk
membangun negaranya.

5.    Sekolah membuka kesempatan memperbaiki nasib

Semenjak   diterapkannya   sistem   persekolahan   yang   bisa
dinikmati   secara   merata   oleh   seluruh   lapisan   masyarakat   di
seluruh penjuru tanah air maka secara otomatis telah mendobrak
tembok ketimpangan sosial masyarakat feodal dan menggantinya
dengan  bentuk  mobilitas  terbuka.  Sekolah  menjadi  tempat  yang
paling strategis untuk menyalurkan  kebutuhan mobilitas vertikal
dalam   kerangka   stratifikasi   sosial   masyarakat.   Perubahan   ini
cukup   menyeruak   karena   di   dalam   tatanan   sosialnya   telah
mengalami   pergeseran   kriteria-kriteria   pekerjaan   yang   secara
tidak  langsung  mengubah  kontruksi  susunan  masyarakat  secara
drastis. Bagi orang-orang yang ingin menapaki karier hidup yang
lebih prestisius maka mereka cukup mendaftarkan diri ke lembaga
sekolah   dan   berproses   secara   serius   sampai   pada   akhirnya
menerima  bukti  kelulusan.  Bisa  dijamin  ijasah  yang  didapat  dari
sekolah    tersebut    lebih    diperhatikan    oleh    pihak-pihak    yang
berkepentingan  dari  pada  gelar  bangsawan  yang  sudah  mulai
usang.  Melalui  pendidikan  orang  dari  golongan  rendah  dapat
meningkat ke golongan yang lebih tinggi.
Banyak   pemuda-pemuda   yang   berhasil   menapaki   jenjang
karir hidupnya melalui sekolah meskipun memiliki latar belakang
status yang tergolong rendah. Oleh karena itu orang tua berusaha
menyekolahkan anaknya dengan harapan akan dapat memperoleh
hasil   yang   memuaskan   bagi   peningkatan   derajat   dan   status
keluarga di kemudian hari.

6. Menciptakan integrasi sosial
Dalam  masyarakat  yang  bersifat  heterogen  dan  pluralistik,
terjaminnya integrasi sosial merupakan fungsi pendidikan sekolah
yang cukup penting. Masyarakat Indonesia mengenal bermacam-
macam   suku   bangsa   masing-masing   dengan   adat   istiadatnya
sendiri,   bermacam-macam   bahasa   daerah,   agama,   pandangan
politik  dan  lain  sebagainya.  Dalam  keadaan  demikian  bahaya
disintegrasi   sosial   sangat   besar.   Sebab   itu   tugas   pendidikan
sekolah  yang terpenting adalah  menjamin  integrasi  sosial. Untuk
menjamin integrasi sosial itu, caranya ialah sebagai berikut.

a.   Sekolah mengajarkan bahasa nasional.
Bahasa  nasional  ini  memungkinkan  komunikasi  antara  suku-
suku  dan  golongan  yang  berbeda-beda  dalam  masyarakat.
Pengajaran  bahasa  nasional  ini  merupakan  cara  yang  paling
efektif untuk menjamin integrasi sosial.
b.   Sekolah   mengajarkan   pengalaman-pengalaman   yang   sama
kepada anak melalui keseragaman kurikulum dan buku-buku
pelajaran  dan  buku  bacaan  di  sekolah.  Dengan  pengalaman
yang  sama  itu  akan  berkembang  sikap  dan    nilai-nilai  yang
sama dalam diri anak.
c.
Sekolah mengajarkan kepada anak corak kepribadian nasional
(national   identity)   melalui   pelajaran   sejarah   dan   geografi
nasional,   upacara-upacara   bendera,   peringatan   hari   besar
nasional,   lagu-lagu   nasional   dan   sebagainya.   Pengenalan
kepribadian  nasional  itu  akan  menimbulkan  perasaan  nasio-
nalisme  dan  perasaan  nasionalisme  itu  akan  membangkitkan
patriotisme.
7.    Kontrol Sosial Pendidikan
Di dalam percakapan sehari-hari, sistem pengendalian sosial
atau  social  control  seringkali  diartikan  sebagai  pengawasan  oleh
masyarakat terhadap jalannya pemerintahan khususnya pemerin-
tah  beserta  aparaturnya.  Asumsi  tersebut  memang  ada  benarnya
namun  dalam  pengertian  yang  mendasar    pengendalian  sosial
tidak hanya berhenti pada pengertian itu saja. Arti sesungguhnya
pengendalian   sosial   jauh   lebih   luas,   karena   pada   pengertian
tersebut tercakup segala  proses, baik yang direncanakan maupun
tidak,  yang  bersifat  mendidik,  mengajak  atau  bahkan  memaksa
warga-warga masyarakat agar mematuhi kaidah-kaidah dan nilai
sosial yang berlaku. Jadi pengendalian sosial dapat dilakukan oleh
individu  terhadap  individu  lainnya  (misalnya  seorang  ibu  men-
didik  anak-anaknya  agar  menyesuaikan  diri  pada  kaidah-kaidah
dan  nilai-nilai  yang  berlaku)  atau  mungkin  dilakukan  oleh  indi-
vidu terhadap suatu kelompok sosial (umpamanya, seorang dosen
di Perguruan Tinggi memimpin beberapa orang mahasiswa dalam
kegiatan  kuliah  kerja  lapangan).  Seterusnya  pengendalian  sosial
dapat dilakukan oleh kelompok terhadap kelompok lainnya, atau
oleh  suatu  kelompok  terhadap  individu.  Itu  semua  merupakan
proses  pengendalian  sosial  yang  dapat  terjadi  dalam  kehidupan
sehari-hari,    meskipun    seringkali    manusia    tidak    menyadari.
Dengan demikian secara mendasar pengendalian sosial bertujuan
untuk  mencapai  keserasian  antara  stabilitas  dengan  perubahan-
perubahan  dalam  masyarakat  atau  suatu  sistem  pengendalian
bertujuan   untuk   mencapai   keadaan   damai   melalui   keserasian
antara kepastian dengan keadilan.
Menurut   Soekanto   (1990)   sifat   pengendalian   sosial   bisa
bersifat preventif atau represif. Preventif merupakan suatu usaha
pencegahan    terhadap    munculnya    gangguan-gangguan    pada
keserasian    antara    kepastian    dengan    keadilan.    Usaha-usaha
preventif dijalankan melalui proses sosialisasi, pendidikan formal
dan   informal.   Dari   penegasan   tersebut   bisa   dikatakan   bahwa
aktivitas  pendidikan  baik  itu  di  sekolah  maupun  di  luar  sekolah
merupakan   salah   satu   alat   pengendalian   sosial   yang   telah
melembaga  baik  itu  pada  masyarakat  tradisional  maupun  yang
sudah  modern.  Sehingga  dalam  hal  ini  pengertian  pendidikan
merupakan proses pengendalian secara sadar di mana perubahan-
perubahan  tingkah  laku  dihasilkan  dari  di  dalam  diri  orang  itu
melalui   pergulatan   sosialnya.   Dari   pandangan   ini   pendidikan
adalah suatu proses yang dimulai pada waktu lahir dan berlang-
sung  sepanjang  hidup.  Pengertian  pengendalian  secara  sadar  ini
berarti adanya tingkat-tingkat kesadaran dari tujuan yang hendak
di dapat.
Sementara itu, sebagaimana uraian penjelasan pada halaman-
halaman terdahulu bahwa di era modern ini lembaga pendidikan
juga  mengalami  proses  transformasi  baik  itu  pola  kegiatan,  tata
nilai,   bentuk   dan   organisasi   perannya   di   masyarakat.   Secara
spesifik telah memunculkan lembaga sekolah sebagai manifestasi
wujud orientasinya. Sehingga pada segi sosialnya sekolah meme-
gang  peranan  penting  dalam  sosialisasi  anak-anak.  Sebagai  salah
satu   upaya   pengendalian   sosial   ada   empat   cara   yang   dapat
digunakan sekolah yakni :
a.
Transmisi kebudayaan, termasuk norma-norma, nilai-nilai dan
informasi    melalui    pengajaran    secara    langsung,    misalnya
tentang  falsafah  negara,  sifat-sifat  warga  negara  yang  baik,
struktur pemerintahan, sejarah bangsa dan sebagainya.
b.    Mengadakan kumpulan-kumpulan sosial seperti perkumpulan
sekolah, Pramuka,  kelompok  olah  raga,  dan  sebagainya  yang
dapat   memberikan   kesempatan   kepada   anak-anak   untuk
mempelajari    dan    mempraktikkan    berbagai    keterampilan
sosial.
c.
Memperkenalkan    anak    dengan    tokoh-tokoh    yang    dapat
dijadikan anak sebagai figur tauladannya. Dalam hal ini guru-
guru dan pemimpin sekolah memegang peranan yang penting.
d.    Menggunakan  tindakan  positif  dan  negatif  untuk  mengha-
ruskan   murid   mengikuti   tata   perilaku   yang   layak   dalam
bimbingan sosial. Yang termasuk dalam tindakan positif ialah
pujian,  hadiah  dan  sebagainya  sedangkan  cara  yang  negatif
berupa hukuman, celaan dan sebagainya.

C.   Perubahan Sosial dan Pendidikan
Telah banyak dibicarakan oleh publik bahwa masyarakat kita
saat ini tidak pernah lepas dari gejala perubahan. Namun karena
gejala tersebut memiliki intensitas yang begitu kuat maka banyak
pihak yang mengkhawatirkan  ketangguhan  "daya tangkal" nilai-
nilai masyarakat yang telah mapan menjadi goyah lalu perlahan-
lahan akan mengalami pemudaran.
Perubahan dalam masyarakat memang telah ada sejak jaman
dulu.  Namun  dewasa  ini  perubahan-perubahan  tersebut  berjalan
dengan  sangat  cepat.  Hal  ini    membingungkan  manusia  yang
menghadapinya.    Perubahan-perubahan    mana   sering    berjalan
secara konstan dan terikat dengan waktu dan tempat. Akan tetapi
karena  sifatnya  berantai,  maka  perubahan  terlihat  berlangsung
terus,   meskipun   diselingi   keadaan   di   mana   masyarakat   yang
mengalami perubahan.
Telah   menjadi   hukum   alam   bahwa   masyarakat   memiliki
perbedaan dalam adopsi setiap perubahan ataupun inovasi baru.
Ada masyarakat yang sangat cepat mengadopsi suatu perubahan,
ada  yang  lambat  bahkan  ada  yang  sangat  skeptik,  di  samping
yang terjadi pada kebanyakan anggota masyarakat umumnya. Hal
ini terjadi, karena anggota masyarakat memiliki perbedaan kesiap-
an  untuk  menerima  perubahan  itu,  sebagai  akibat  dari  adanya
variasi   pengetahuan,   cara   berpikir,   sikap,   variasi   personalitas,
pengalaman,   selain   kesesuaiannya   antara   nilai   yang   ia   miliki
dengan  nilai   baru  yang   ditawarkan.  Selain  karakteristik   yang
oleh  seseorang  atau  suatu  masyarakat,  faktor  referensi
atau  panutan  juga  berperanan  penting  dalam  adopsi  perubahan
itu.  Unsur-unsur  yang  dapat  dijadikan  referensi  oleh  seseorang
atau masyarakat terhadap proses adopsi perubahan itu di antara-
nya  adalah,  (1)  orangtua  (2)  pemuka  masyarakat  baik  formal
mupun non-formal, (3) teman dekat, (4) figur idola, dan (5) orang
yang  paling  berpengaruh  terhadap  diri  seseorang.  Unsur-unsur
no.  1,  2,  dan  3,  dapat  ditunjuk  dengan  jelas  dalam  masyarakat.
Akan   tetapi   unsur   figur   idola   dan   unsur   orang   yang   paling
berpengaruh terhadap diri seseorang sangat subjektif. Figur-fiigur
itu dapat berwujud   bintang film, tokoh masyarakat, sifat herois-
me,  atau  yang  lain,  yang  pada  dasarnya  dapat  berbentuk  karak-
teristik  atau  aktualisasi  dari  figur  itu  yang  dinilai  sesuai  dengan
nilai yang dimilikinya, karena baik pola maupun kecepatan sese-
orang  atau  suatu  masyarakat  menerima  suatu  perubahan  pada
dasarnya adalah berbeda. Perbedaan ini yang dapat menghasilkan
kesenjangan tata nilai di dalam masyarakat, lebih-lebih lagi dalam
situasi  di  mana kompleksitas perubahan  itu semakin meluas dan
perubahan itu terjadi sangat cepat.
Sementara   kalau   kita   sadari   perubahan   budaya   manusia
melekat  dengan  perubahan  alam  dan  jaman.  Pada  era  teknologi
suatu  masyarakat  akan  ketinggalan  apabila  masyarakat  itu  tidak
menerapkan   teknologi   dalam   tatanan   hidup   mereka.   Bahkan
teknologi  telah  terbukti  membawa  tingkat  efisiensi  dan  kemak-
muran  masyarakat,  karena  sifat  dari  teknologi  itu  yang  pada
dasarnya memburu perolehan nilai tambah perubahan budaya itu
pada  dasarnya  adalah  untuk  adaptasi  terhadap  perubahan  alam
dan  jaman  agar  manusia  tetap  mampu  mempertahankan  eksis-
tensi hidup mereka. Meskipun kekayaan sumber daya alam bukan
faktor  penentu  terhadap  kemajuan  suatu  masyarakat  dibanding-
kan  dengan  kekayaan  sumber  daya  manusia  tetapi  semakin  ber-
kurangnya  daya  dukung  potensi  sumber  daya  alam  dibanding
dengan  tuntutan  kebutuhan  manusia  yang  jumlahnya  semakin
besar  tetap akan  berdampak  terhadap  terjadinya  perubahan  pola
hidup  manusia.  Apabila  produk  dan  jasa  yang  menjadi  ukuran
kekuatan  suatu  masyarakat  potensial  bagi  masyarakat  tertentu,
maka mereka itu yang akan mampu menguasai pasar, yang akhir-
nya  merekalah  yang  akan  mampu  mempertahankan  eksistensi
hidup mereka. Akhirnya penguasaan teknologi yang akan meng-
hasilkan unggulan suatu bangsa. 
 
Berdasarkan tinjauan di atas, bahwa untuk mempertahankan
eksistensi hidup masyarakat tidak dapat terhindar dari penguasa-
an  teknologi,  maka  unsur  kreativitas,  unsur  kemandirian  dalam
kebersamaan,  unsur  produktivitas,  menjadi  faktor  yang  sangat
penting  untuk  menaggapi  budaya  hidup  teknologis  itu.  Berarti
pendidikan yang menghasilkan manusia-manusia kreatif menjadi
tuntutan dalam pola pendidikan umum saat ini banyaknya media
yang  dapat  berperan  sebagai  sumber  informasi  pendidikan  bagi
generasi bangsa saat ini, maka konsep pendidikan perlu mengala-
mi  pergeseran,  pendidikan  bukan  lagi  sebagai  usaha  yang  di
sengaja lagi akan tetapi menjadi kondisi apapun yang dampaknya
dapat   menyebabkan   terjadinya   perubahan   nilai-nilai   manusia.
Kondisi  dalam  kehidupan  keluarga,  kondisi  yang  terjadi  dalam
masyarakat luas sebagai panggung pentas budaya bangsa kondisi
yang ditampilkan oleh berbagai media baik cetak maupun elektro-
nika, kondisi yang terjadi di sekolah kesemuanya secara bersama-
sama  mewujudkan  terjadinya  proses  pendidikan  bagi  generasi
bangsa kita. Baik dipandang dari dimensi tuntutan kualitas manu-
sia masa kini  dan  masa datang maupun  dari  kondisi  pendidikan
yang  semakin  kompleks  dan  multidimensional  itu,  maka  pendi-
dikan kita telah saatnya lebih banyak memberi kesempatan anak-
anak  kita  mengaktualisasikan  diri  dalam kondisi  yang  terkontrol
baik  dirumah  maupun  di  sekolah  untuk  mengimbangi  kondisi
yang  tidak  terkontrol  dalam  kehidupan  di  masyarakat  luas  yang
justru  tarik  menarik  pengaruhnya  terhadap  proses  pendidikan
formal  semakin  besar.  Peran  pendidikan  orang  tua  dan  pendi-
dikan sekolah dituntut semakin besar, apabila kita ingin generasi
bangsa kita tidak mengalami pemudaran nilai-nilai budaya bangsa
kita yang akan menjalar kepada pemudaran rasa kebangsaan kita,
dengan   lebih   besar   memberikan   kesempatan   kepada   mereka
untuk mengaktualisasikan diri mereka masing-masing.

D.   Pendidikan dan Pembaharuan Masyarakat
Ada  para  pendidik  yang  menaruh  kepercayaan  yang  besar
sekali akan kekuasaan pendidikan dalam membentuk masyarakat
baru.  Oleh  karena  itu  setiap  anak  diharapkan  memasuki  sekolah
dan  dapat  diberikan  ide-ide  baru  tentang  masyarakat  yang  lebih
indah daripada yang sudah-sudah. Sekolah dapat merekonstruksi
atau mengubah dan membentuk kembali masyarakat baru. 
Apakah  harapan  itu  akan  terpenuhi?  Dapat  dipertanyakan.
Pihak  yang  berkuasa  di  suatu  negara  pada  umumnya  menggu-
nakan  sekolah  untuk  mempertahankan  dasar-dasar  masyarakat
yang ada. Perubahan yang asasi tak akan terjadi tanpa persetujuan
pihak yang berkuasa dan masyarakat.
Sekolah tak dapat melepaskan diri dari masyarakat tempat ia
berada  dan  dari  kontrol  pihak  yang  berkuasa.  Sekolah  hanya
dapat  mengikuti  perkembangan  dan  perubahan  masyarakat  dan
tak  mungkin  mempelopori  atau  mendahuluinya.  Jadi  tidak  ada
harapan  sekolah  dapat  membangun  masyarakat  baru  lepas  dari
proses perubahan sosial yang berlangsung dalam masyarakat itu.
Belajar  dari  pengalaman  berbagai  dunia,  tentu  saja  sekolah
dapat  digunakan  oleh  yang  berkuasa  untuk  mengadakan  peru-
bahan-perubahan  radikal  yang  diinginkan  oleh  pihak  yang  ber-
kuasa itu, seperti Hitler di Jerman, Partai Komunis di Uni Soviet,
Jepang  di  daerah  jajahannya  dan  sebagainya.  Sistem  pendidikan
adalah  alat  yang  ampuh  untuk  mengindoktrinasi  generasi  muda
agar  menciptakan  suatu  masyarakat  menurut  keinginan  mereka
yang  mengontrolnya.  Perubahan  kekuasaan  dalam  suatu  negara,
misalnya   oleh   golongan   yang   menganut   ideologi   lain   akan
memanfaatkan  sekolah  sebagai  alat  untuk  membangun  masya-
rakat baru menurut ideologi mereka.
Dalam dunia yang dinamis ini tanpa terkecuali setiap masya-
rakat  akan  mengalami  perubahan  menuju  pembaharuan.  Tidak
turut  berubah  dan  mengikuti  pertukaran  jaman  akan  membaha-
yakan eksistensi masyarakat itu. Tiap pemerintahan akan berusa-
ha  mengadakan  perubahan  yang  diinginkan  demi  kesejahteraan
rakyatnya dan keselamatan bangsa dan negaranya. Dalam hal itu
diusahakan adanya keseimbangan antara dinamika dengan stabi-
litas. Perubahan-perubahan itu antara lain tercermin dalam peru-
bahan   dan   pembaharuan   kurikulum   dan   sistem   pendidikan.
Peralihan  dari  jaman  ke  jaman  memerlukan  berbagai  perubahan
kurikulum sesuai dengan filsafat bangsa dan paradigma dominan
yang dianut. Jadi, dengan kata lain, perubahan menuju pembaha-
ruan dalam pendidikan sangat tergantung kebijakan yang diambil
oleh  negara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar