Liana Arum Purwitasari

tanpa tanda jasa
SELAMAT DATANG DI BLOG LIANA ARUM PURWITASARI

Rabu, 25 April 2012

PERANAN SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN


pengertian  sederhana,  sosiologi  pendidikan  memuat
analisis-analisis ilmiah tentang proses interaksi sosial yang terkait
dengan  aktivitas  pendidikan  baik  dari  lingkup  keluarga,  kehi-
dupan  sosio-kultur  masyarakat  maupun  pada  taraf  konstelasi  di
tingkat nasional. Sehingga dari sini bisa di dapat sebuah gambaran
objektif tentang relasi-relasi sosial yang menyusun konstruksi total
realitas   pendidikan   di   negara   kita.   Sampai   pada   pemahaman
tersebut segala bentuk wawasan dan pengetahuan sosiologis guna
membedah  tubuh  pendidikan  kita  menjadi  perlu  untuk  dibahas
agar  proses-proses  pengajaran  tidak  bias  ke  arah  yang  kurang
relevan dengan kebutuhan bangsa.
Di sisi lain, jika perhatian kita tertuju pada lembaran sejarah
perkembangan  pendidikan  masyarakat  Indonesia,  produk  kema-
juan  sosial,  meningkatnya  taraf  hidup  rakyat,  akselerasi  perkem-
bangan ilmu pengetahuan dan penerapan inovasi teknologi meru-
pakan  bagian  dari  prestasi  gemilang  hasil  jerih  payah  lembaga
pendidikan kita dalam upaya memajukan kehidupan bangsa Indo-
nesia. Meningkatnya jumlah kaum terpelajar telah menjadi bahan
bakar lajunya lokomotif kemajuan dan kesejahteraan rakyat Indo-
nesia. Akan tetapi, beberapa kendala yang melingkari dunia pen-
didikan    dalam    kaitan    dengan    menurunnya    kualitas    output
pendidikan  kita  menjadi  bukti  bahwa  wajah  persekolahan  kita
memerlukan banyak perbaikan.
Melihat  keberadaan  sekolah  begitu  penting  bagi  eksistensi
dan  keberlangsungan  pendidikan  di  negara  kita  maka  topik  ini
akan  mengarahkan  lingkup  kajian  sosiologisnya  kepada  hakikat
peran  dan  fungsi  lembaga  sekolah  sebagai  lembaga  pendidikan.
Tiga  sub-judul  berikutnya  akan  menindaklanjuti  fokus  pemba-
hasan dengan titik tekan yang lebih spesifik. Pada sub-judul per-
tama, banyak digali  tentang hubungan-hubungan  sosial  di  dunia
pendidikan   dalam   wadah   organisasi   formal.   Di   sini   kriteria
sekolah  sebagai  salah  satu  wujud  organisasi  formal  ditinjau  dari
unsur-unsur sosial pendukungnya dalam proses mencapai
tujuan pendidikan. Pada sub judul kedua lebih menyoroti konteks
transaksi  pendidikan  di  ruang  kelas.  Hal  ini  ditekankan,  sebab
ruang  kelas  merupakan  representasi  dari  proses-proses  pendi-
dikan  yang  sesungguhnya,  karena  di  dalamnya  telah  melibatkan
komponen-komponen  belajar  mengajar  secara  langsung.  Sedang-
kan pada sub judul yang ketiga, tinjauannya bertolak dari kenya-
taan bahwa sekolah tidak bisa lepas dari hubungan wadah ekster-
nalnya.  Kondisi  sosio-kultur  masyarakat  tidak  bisa  tidak  meru-
pakan   salah   satu   faktor   penting   yang   berpengaruh   terhadap
proses-proses pendidikan di sekolah.
Tiga batasan tinjauan di atas akan dipaparkan sebagai upaya
untuk  menyajikan  beberapa  manfaat  analisis  sosiologis  terhadap
dunia pendidikan.

A.   Sekolah sebagai Organisasi
Tempo  dulu  masyarakat  sederhana  belum  mengenal  lem-
baga-lembaga   resmi   yang   mengatur   penyaluran   kebutuhan-
kebutuhan  hidup  mereka.  Contohnya  masyarakat  Indian  yang
tidak perlu meminta bantuan lembaga sekolah untuk mengajarkan
kepandaian memanah kepada generasi penerusnya. Bagi mereka,
cukup dengan uluran tangan dari para ayah dan saudara tuanya
maka bisa dipastikan  hampir seluruh  remaja-remaja muda mam-
pu menguasai teknik memanah dari tingkat dasar sampai kategori
mahir  (Horton  dan  Hunt,  1999:  333).  Seiring  dengan  bergulirnya
roda  sejarah  kehidupan,  maka  prestasi  pengetahuan  dan  kete-
rampilan yang diperoleh manusia menjadi sedemikian kompleks,
sehingga pada fase inilah konsep pengetahuan dan kemampuan-
kemampuan gemilangnya telah menjadi penentu arah kehidupan
di  masa  yang  akan  datang.  Beberapa  faktor  telah  melatar  bela-
kangi  terbentuknya  lembaga-lembaga  tertentu  untuk  mengelola
alokasi  pemenuhan  kebutuhan  di  antaranya,  (1)  pertumbuhan
jumlah populasi manusia yang mempengaruhi tingkat penguasa-
an dan ketersediaan sumber daya alam, (2) kompleksnya pranata
kebudayaan   dan   mekanisme   pengetahuan   beserta   teknologi
terapan, dan (3) implikasi tingkat akal budi dan mentalitas manu-
sia yang kian rasional.
Secara singkat, terbentuknya lembaga pendidikan merupakan
konsekuensi   logis   dari   taraf   perkembangan   masyarakat   yang
sudah  kompleks.  Sehingga  untuk  mengorganisasikan  perangkat-
perangkat  pengetahuan  dan  keterampilan  tidak  memungkinkan
ditangani secara langsung oleh masing-masing keluarga. Perlunya
pihak lain yang secara khusus mengurusi organisasi dan apresiasi
pengetahuan serta mengupayakan untuk ditransformasikan kepa-
da para generasi muda agar terjamin kelestariaannya merupakan
cetak  biru  kekuatan  yang  melatarbelakangi  berdirinya  sekolah
sebagai lembaga pendidikan.
Walaupun  wujudnya  berbeda-beda  dalam  tiap-tiap  negara,
keberadaan  sekolah  merupakan  salah  satu  indikasi  terwujudnya
masyarakat modern. Dalam hal ini para sosiolog telah melakukan
ikhtiar  ilmiah  untuk  menentukan  taraf  evolusi  perkembangan
masyarakat  manusia.  Dimulai  dari  Auguste  Comte  (1798-1857)
dengan   karyanya   yang   berjudul   Course   de   philosophie   Positive
(1844).   Beliau   menekankan   hukum   perkembangan   masyarakat
yang terdiri dari tiga  jenjang, yaitu jenjang teologi di mana manu-
sia  mencoba  menjelaskan  gejala  di  sekitarnya  dengan  mengacu
pada  hal  yang  bersifat  adikodrati.  Taraf  perkembangan  selanjut-
nya  disusul  pencapaian  manifestasi  kemampuan  manusia  untuk
menangkap  fenomena  lingkungan  dengan  menyandarkan  pada
kekuatan-kekuatan   metafisik   atau   abstrak.   Hingga   pada   level
tertinggi, taraf positif. Iklim kehidupan demikian ditandai dengan
prestasi   kemampuan   manusia   untuk   menjelaskan   gejala   alam
maupun  sosial  berdasar  pada  deskripsi  ilmiah  melalui  pema-
haman   kekuasaan   hukum   objektif   (Sunarto,   2000   :   3).   Dari
pengertian tersebut perwujudan manusia positivis hanya mampu
ditopang oleh orientasi pendidikan yang sudah terlembaga secara
mantap melalui aplikasi fungsi sekolah-sekolah modern.
Di   lain   pihak,   tak   kalah   pentingnya   buah   pikiran   Emile
Durkheim (1858-1912)  berupa buku yang berjudul  The Division of
Labour  in  Society (1968)  juga  menganalisis kecenderungan  masya-
rakat  maju  yang  di  dalamnya  terdapat  pembagian  kerja  dalam
pemetaan  bidang-bidang  ekonomi,  hukum,  politik  pendidikan,
kesenian  dan  bahkan  keluarga.  Gejala  tersebut  merupakan  dam-
pak  dari  penerapan  sistem  ekonomi  industri  yang  di  dalamnya
memerlukan  memerlukan  spesialisasi  peran  untuk  mengusung
keberhasilan dalam memenuhi kebutuhan hidup para anggotanya
(Johson,  1986  :  181-184).  Sekali  lagi  ilustrasi  di  atas  hanya  dapat
tercermin pada konteks organisasi lembaga pendidikan yang telah
mampu   memproduk   manusia   profesional   dengan   spesifikasi
keahlian.  Sedangkan  untuk  mewujudkan  figur-figur  manusia  itu
hanya   mampu   dilakukan   oleh   lembaga-lembaga   pendidikan
modern.
Dari  kedua  pernyataan  ilmiah  para  tokoh  sosiologi  di  atas
dapat ditarik kesimpulan bahwa keberadaan sekolah yang mewar-
nai dunia kehidupan manusia saat ini merupakan sebuah kenisca-
yaan peradaban modern yang lekat dengan renik-renik pergulatan
ilmu  pengetahuan  dan  aplikasi  teknologi  mutakhir.  Sementara
melihat konteks sosial yang terbentuk dapat dijawab pula sekolah
juga  masuk  dalam  kategori-kategori  organisasi  pada  umumnya
yang mengemban konsekuensi-konsekuensi organisatoris.
Oleh karena itu keberadaan sekolah patut dimasukkan seba-
gai  salah  satu  organisasi  yang  memanfaatkan  mekanisme  biro-
kratis  dalam  mengelola kerja-kerja  institusinya.  Beberapa  prinsip
penerapan birokrasi  juga terdapat dalam lembaga sekolah  antara
lain:
1.    Aturan dan prosedur yang ketat melalui birokrasi,
2.    Memiliki   hierarki   jabatan   dengan   struktur   pimpinan   yang
mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda-beda,
3.    Pelaksanaan adminstrasi secara professional,
4.    Mekanisme  perekrutan  staf  dan  pembinaan  secara  bertang-
gung jawab,
5.    Struktur karier yang dapat diidentifikasikan, dan
6.    Pengembangan hubungan yang bersifa formal dan impersonal
(Robinson, 1981: 241).
Sekolah   memang   tidak   menggunakan   semua   ketentuan-
ketentuan  di  atas  secara  ketat  dan  linear.  Kaitan  dengan  hal  ter-
sebut, Bidwell  ,1965 (dalam Robinson, 1981). berpendapat bahwa
sekolah mempunyai ciri "struktur yang longgar". Yang dimaksud
dengan  kelonggaran  struktural  oleh  Bidwell  adalah  prasyarat-
prasyarat  mutlak  dari  kekuatan-kekuatan  struktural  tidak  harus
dilaksanakan  sepenuhnya  oleh  guru  dalam  menerapkan  metode
belajar-mengajar  kepada  para  siswanya.  Tiap  guru  mempunyai
kebebasan  tertentu untuk menentukan  bagaimana ia mengajar di
kelas, walaupun perangkat-perangkat materinya telah ditentukan
oleh kurikulum di atasnya



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar