Liana Arum Purwitasari

tanpa tanda jasa
SELAMAT DATANG DI BLOG LIANA ARUM PURWITASARI

Rabu, 25 April 2012

PERANAN SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN II


Masih   dalam   lingkup   sekolah   sebagai   organisasi   formal,
beberapa ahli telah menyajikan pranata-pranata manajemen yang
berbeda-beda  dalam  menerapkan  fungsi  manajemen  di  sekolah
(Robinson, 1981). Di antaranya adalah sebagai berikut.

1.    Manajemen Ilmiah
Pokok-pokok dari manajemen ilimiah antara lain
  • Menggunakan alat ukur dan perbandingan yang jelas dan
tepat,  
  • Menganalisis   dan   membandingkan   proses-proses   yang telah dicapai, dan
  • Menerima hipotesis terkuat yang lulus dari verifikasi serta
menggunakannya sebagai kriteria tunggal

Implikasinya  jelas,  penerapan  kriteria  tunggal  bagi  sekolah
demi mencapai maksimalisasi hasil-hasil belajar secara efisien dan
efektif. Tampak jelas jenis manajemen ini  berkarakter mekanistis,
ketat,     mengutamakan     hasil     kuantitatif,     serta     cenderung
mengesampingkan unsur-unsur manusiawi di dalam prosesnya.

2.    Sistem Sosio-teknis
Sebagai  sistem  sosio-teknis,  sekolah  mencakup  banyak  hal
yang menjadi input organisasi, namun stafnya akan "mengetahui"
sifat  input-inputnya.  Dengan  begitu  sekolah  dapat  menentukan
instrumen-instrumen   pengolahan   demi   menjamin   hasil   yang
optimal.  Sampai  di  sini  definisi  sosio-teknis  memberikan  titik
tekan pada pengamatan dan pengelompokan jenis-jenis masukan
dalam sekolah lalu ditindaklanjuti dengan cara-cara yang relevan
dengan  "bahan  mentah"  tersebut.  Manajemen  sosio-teknis  masih
menggunakan   prinsip   manajemen   formal,   sehingga   beberapa
unsur yang melekat pada prinsip manajemen ilmiah juga dimiliki
oleh sistem sosio-teknis.
3.    Pendekatan Sistemik
Model  pengelolaan  yang  paling  banyak  digunakan  adalah
bentuk  teori  sistem.  Ciri  kahs  pendekatan  ini  adalah  pengakuan
adanya   bagian-bagian   suatu   sistem   yang   terkait   erat   pada
keseluruhan.  Hubungan  timbal  balik  itu  mengisyaratkan  detail
bagian    yang    cukup    kompleks    dan    proses    interaksi    secara
keseluruhan  dalam  sebuah  organisasi.  Implikasi  lain,  batas-batas
antarbagian harus diketahui dengan tegas dalam mengidentifikasi
komponen-komponen lembaga sekolah .
Secara  internal  model  teori  sistem,  mengadopsi  penanganan
lembaga   formal   pada   umumnya   untuk   menggerakkan   roda
organisasi. Akan tetapi pendekatan ini juga memperhatikan sistem
sosial  yang  bekerja  di  luar  sekolah.  Tiap  sekolah  berusaha  pula
menampung tuntutan-tuntutan dari para orang tua siswa, industri
setempat, pendapat profesional dan kebijaksanaan pendidikan.

4.    Pendekatan Individual
Baik   pendekatan   manajemen   maupun   pendekatan   sistem
cenderung   "membendakan"   organisasi.   Organisasi   dipandang
seakan-akan  seperti  makhluk  besar  yang  mengatasi  dan  menge-
cilkan  peran  anggota-anggotanya (terutama para murid). Sebagai
antitesisnya,  maka  pendekatan  individual  mengakomodasi  nilai-
nilai  kemanusiaan  dalam  organisasi.  Akan  tetapi  pada  perkem-
bangannya  pendekatan  individual  memiliki  dua  keompok  pan-
dangan yakni:

a.    Teori Pasif
Pandangan yang menekankan pengamatan input pendidikan
secara kolektif. Di mana sudut terpenting yang harus diperhatikan
oleh  sekolah  adalah  proses  kematangan  pribadi  para  siswa  yang
harus   difasilitasi,   diakomodasi   kebutuhannya   dan   dibimbing
menuju kedewasaan. Oleh karena itu, proporsi organisasi sekolah
yang  cenderung  mekanistis  harus  dipola  menjadi  flksibel  agar
para anggotanya bisa berekspresi dengan optimal (Robinson, 1981:
252).

b.   Teori Aktif
Konstruksi   pendekatan   yang   mengutamakan   kemampuan
aktif para siswa untuk menginterpretasikan makna-makna norma-
tif  dan  tindakan-tindakan  yang  diharapkan  berdasarkan  iklim
kesadaran mereka. Menurut Silverman (1970) proses sosialisasi di
sekolah  bukanlah  imperatif-imperatif  moral  yang  memaksa  akan
tetapi   justru   sekolah   menjadi   "pembantu"   para   siswa   dalam
mendokumentasi   dan   memantapkan   makna-makna   kehidupan
yang  didapat  oleh  mereka  sendiri.  Pendekatan  ini  sangat  kental
dengan   pengaruh   aliran   fenomenologis   dalam   sosiologi.   Oleh
karena   itu   teori   aktif   bermaksud   menekankan   makna-makna
tafsiran  budaya  yang  didapat  oleh  individu-individu  di  dalam
mempersepsikan  fungsi  sekolah  bagi  mereka  (Robinson,  1981  :
254).
Berbagai pandangan di atas telah menandaskan aspek-aspek
penting  yang  berperan  dan  berinteraksi  di  dalam  sekolah.  Pada
kenyataannya  seluruh  konsep  manajemen  yang  ditekankan  oleh
masing-masing  ahli  tersebut  selalu  tercantum  di  dalam  sekolah.
Tentunya   fungsionalisasi   masing-masing   model   manajemen   di
atas  tergantung  pada  konteks  pandangan  manusia  yang  meng-
amatinya.  Apabila  pada  aspek  makro  maka  dominasi  gabungan
fungsi  manajemen  sistem,  sosio-teknis  dan  ilmiah  lebih  berperan
penting   dalam   membantu   kerja   penglihatan   intelektual   kita.
Berbeda  pada  dimensi  yang  lebih  mikro,  maka  tipe  ideal  pen-
dekatan  individual  adalah  aspek  yang  harus  diperhatikan  dalam
menelah unsur-unsur yang bermain di dalam sekolah.
Dalam hal ini kita akan lebih condong mengamati organisasi
sekolah dalam skala makronya. Analisis sosial yang muncul sepu-
tar sekolah banyak mengupas konflik-konflik antar peranan yang
terjadi di lembaga sekolah. Seperti yang diungkapkan oleh Davies,
1973  (  dalam  Robinson,  1981  :  250)  bahwa  lembaga  pendidikan
sering   dirasuki   oleh   nilai-nilai   yang   terkadang   bertentangan
antarpihak  baik  dari  para  guru,  orang  tua,  staf  birokrat,  siswa,
maupun pihak aparat pimpinan sekolah.
Dari sini analisis yang bisa disajikan untuk mengamati kebe-
radaan  sekolah  sebagai  lembaga  formal  dalam  aktivitas  pendi-
dikannya terbagi menjadi dua lahan persoalan yakni:

1.    Penafisiran  multi-konsep  tentang  tujuan  organisasi  beserta
alokasi peran yang sinergis
Sudah menjadi konsekuensi bagi setiap organisasi untuk me-
netapkan   tujuan   lembaga.   Berbeda   dengan   organisasi   pada
umumnya, sekolah memiliki ciri khas yang agak unik, khususnya
dari  objek  yang  menjadi  tujuannya.  Dengan  menetapkan  posisi
peran kelembagaan yang bertugas untuk membekali peserta didik
seperangkat  pengetahuan  dan  keterampilan  maka  sekolah  telah
mengumandangkan  jenis  tujuan  yang  bersifat  abstrak.  Hal  ini
tentu saja berbeda dengan  lembaga lain  yang jelas-jelas memiliki
objek  tujuan  konkrit.  Contohnya  lembaga  perusahaan,  tentunya
bagi  siapa  saja  akan  jelas  memahami  arti  "mencari  keuntungan
maksimal" bagi perusahaan. Baik itu manajer pemasaran, direktur
pabrik,  buruh  angkutan,  sopir,  sampai  tenaga  administrasi  akan
jelas   mengartikan   definisi   tujuan   tersebut.   Sementara   sekolah
memiliki tujuan yang bersifat multi-penafsiran dan agak kabur.
Selain itu, dimensi abstrak yang menjadi titik tolak penafsiran
para praktisi sekolah dapat memunculkan hambatan besar untuk
menyatukan  pemahaman  makna  tujuan  pendidikan  antar  posisi.
Berdasarkan  struktur  organisasi  yang  terbentuk,  guru  bertugas
sebagai pelaksana pengajaran kepada siswa, supervisor berfungsi
membina para guru dan tugas formal administratur sekolah ialah
untuk   mengkoordinasikan   dan   memadukan   berbagai   ragam
aktivitas  dalam  lingkungan  sekolah.  Masing-masing  pemegang
posisi  mempunyai  hak  dan  kewajiban  tertentu  dalam  hubungan
dengan posisi lain. Sudah tentu kompleksitas peranan menimbul-
kan  nilai  sosial  yang  berbeda-beda  dan  apabila  ditarik  dalam
suatu  prospek  tujuan  maka  akan  melibatkan  bermacam-macam
penafsiran.
Selain objek tujuan yang sarat nilai, posisi-posisi peran yang
cukup  kompleks  di  lingkup  internal,  maka  sebuah  sekolah  akan
berhadapan  langsung  dengan  komponen  nilai-nilai  lain  di  luar
lingkungannya.   Spesifikasi   tujuan   yang   telah   ditetapkan   oleh
sekolah  ternyata  harus  bersinggungan  erat  dengan  alokasi  peran
pendidikan di luar sekolah, terutama keluarga. Berkaitan dengan
hal  tersebut, suatu observasi  ilmiah  yang dilakukan  oleh Univer-
sitas   Havard   telah   menunjukkan   hasil   yang   cukup   dramatis.
Setelah diteliti, para guru di sekolah-sekolah New England memi-
liki  pandangan  yang  berbeda  tentang  tujuan  pendidikan,  begitu
juga  antar  guru  dengan  kepala  sekolahnya,  selain  itu  indikasi
serupa  ditunjukkan  perbedaan  nilai  antar  administratur  dengan
Badan  Pertimbangan  Sekolah.  Lebih    jauh  bukti  penelitian  juga
menunjukkan sumber utama yang melahirkan konflik di kalangan
praktisi   sosial   tentang   tujuan   dan   program-program   sekolah
(Faisal,   1985: 69).
Dipandang  dari  sudut  tujuannya  ternyata  lembaga  sekolah
harus melakukan bermacam-macam proses penyatuan pandangan
baik   dari   wilayah   internal   maupun   asumsi-asumsi   publik   di
lingkup eksternal. Telaah sosiologis telah memberikan sumbangan
konseptual  untuk  membedah  objek  tujuan  sekolah  dalam  pola-
pola  hubungannya  dengan  pihak  internal  maupun  luar  lembaga
sekolah. 
2.    Kompleks  permasalahan  di  sekitar  orientasi  lintas  posisi
dalam koridor efisiensi dan efektivitas
Kompleks   pertentangan  tersebut   merupakan   derivasi   dari
perangkat-perangkat manusia yang memiliki peran-peran spesifik
di   lembaga   sekolah.   Banyak   buku   teks   yang   mengemukakan
tentang  peranan  guru  dan  adminsitratur  pendidikan  seolah-olah
harmonis  dan  serba  sinergis.  Padahal  kenyataan  membuktikan,
salah satu faktor yang memberatkan kerja organisasi adalah gejala
kesalahpahaman   untuk   memahami   kawan   sekerja   berkenaan
dengan  hak  dan  kewajiban  yang  berbeda  sesuai  dengan  status
pekerjaannya.
Kecenderungan  yang terjadi, hampir semua tanggung jawab
dan tugas sekolah yang berhubungan dengan siswa selalu dilim-
pahkan  kepada  seorang  guru.  Sedangkan  pemberitaan  fungsi-
fungsi peran yang berbeda baik dari aspek bimbingan konseling,
pelayanan birokrasi dan keuangan, serta peran penegak ketertiban
dan  kedisplinan  tidak  pernah  tersiar  secara  utuh  kepada  para
siswa.
Dalam analisis sosiologis, konflik peranan di lingkup internal
sekolah   disebabkan   pada   rangkaian   hak   dan   kewajiban   yang
mempengaruhi harapan para pemegang status pekerjaan. Ruang-
ruang   kesadaran   peran   tersebut   telah   terpecah   belah   pada
akumulasi   integrasi   yang   terkotak-kotak   pada   masing-masing
kelompok  pekerjaan.  Dalam  waktu  yang  sama  kepala  sekolah
mengharapkan   para   guru   selalu   tertib   dalam   melaksanakan
pengajaran.  Sementara  guru  sendiri  selalu  berkeinginan  mem-
berikan  ragam  materi  yang  selengkap-lengkapnya  kepada  para
siswa.  Hal  ini  tentu  bertentangan  dengan  asumsi  umum  para
siswa yang jelas-jelas berharap agar para guru tidak terlalu banyak
menyodorkan materi yang harus mereka hafalkan.
Hal tersebut tentunya semakin menjauhkan kesadaran warga
sekolah  mengenai  hakikat  mendasar  dari  fungsi  sekolah  sebagai
lembaga   pendidikan.   Mereka   semakin   jauh   terjerumus   pada
labirin-labirin  pertentangan  seputar  ritual-ritual  teknis  pemenu-
han  kebutuhan  organisasional.  Dari  sini  tujuan  awal  penerapan
adminstrasi  pendidikan  untuk  mempermudah  lembaga  sekolah
dalam menjalankan fungsi-fungsi edukatif beralih menjadi raksasa
permasalahan yang selalu menggelayuti mentalitas warganya.
Tentu  saja  dalam  hal  ini  sumbangsih  teori  sosiologi  cukup
strategis   guna   memberikan   gambaran   komperhensif   tentang
gurita konflik yang terbentuk di lingkungan sekolah dalam kaitan
pertentangan antarperan. Dengan begitu, para praktisi pendidikan
diharapkan memiliki bahan mentah yang lengkap mengenai pola-
pola  sosial  yang  tersusun  di  dunia  pendidikan  formal 
varian-varian permasalahannya.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar